ArtikelGaya Kepemimpinan Partisipatif (Kepemimpinan yang Mengasah)

Redaksi Pemimpin.IDJuly 7, 2020296
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/06/rahmat-yananda-covid-19-pendemik-iluni-pemimpin-new-normal-1280x960.jpg

Gaya Kepemimpinan Partisipatif adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin atau leader melibatkan para anggota tim nya untuk saling berdiskusi dalam menemukan ataupun mengambil suatu keputusan.

Gaya kepemimpinan seperti ini yang mendorong anggota tim-nya untuk terlibat dalam suatu masalah ataupun dalam keadaan tertentu.

Pada umumnya gaya kepemimpinan partisipatif memberikan kesempatan bagi para anggota tim-nya untuk berkembang.

Hal ini dikarenakan tidak hanya seorang pemimpin atau leader yang memikirkan untuk memecahkan masalah dan meng-instruksikan kepada bawahan atau anggota tim-nya untuk melaksanakan instruksi tersebut.

Melainkan juga bertanya, berdiskusi, dan brainstorming bersama mengenai suatu pendapat dari para bawahan atau anggota tim. Sehingga dapat mengasah kreatifitas para bawahan untuk bisa berkembang.

 

Gaya Kepemimpinan Partisipatif menurut para ahli

Menurut Burhanuddin dalam bukunya yang berjudul Administrasi, Manajemen, dan kepemimpinan Pendidikan. Gaya kepemimpinan partisipatif memilki pengertian yang sama dengan gaya kepemimpinan demokratis.

Dimana seorang pemimpin berkonsultasi dengan para bawahan terkait tindakan-tindakan keputusan yang diusulkan oleh seorang pemimpin.

Berdasarkan hasil penelitian dari Kurt Lewin di tahun 1930-an. Lewin dan para kolega nya menemukan tiga gaya kepemimpinan yang berbeda, yaitu democratic, autocratic, dan laiisez-faire.

Dalam penelitiannya. Lewin menemukan bahwa terdapat banyak dampak dari tingkat partisipasi yang berbeda terhadap motivasi dari para bawahan.

Pada tahun 1967 Rensis Likert dan koleganya mengidentifikasi 4 model kepemimpinan. Yang meliputi exploitative authoritative, benevolent authoritative, consultative, dan participative.

Likert menemukan bahwa gaya kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan teamwork, communication, dan overall participation dalam mencapai tujuan.

Gary Yukl pada tahun 1971 menemukan 4 jenis pengambilan keputusan dan bagaimana sikap/perilaku mempengaruhi efektifitas dari penerapan gaya kepemimpinan partisipatif.

Adapun 4 jenis pengambilan keputusan tersebut meliputi: Otokratis, Kolektif, Konsensus, dan Demokratis.

Keempat jenis pengambilan keputusan tersebut meliputi berbagai jenis tingkatan partisipasi dari para bawahan, kecuali pengambilan keputusan Otokratis.

Bagaimana Cara kerja Gaya Kepemimpinan Partisipatif?

 

cara kerja kepemimpinan partisipatif

 

Terdapat 5 langkah cara kerja atau framework yang bisa dilaksanakan oleh seorang pemimpin dalam menggunakan gaya kepemimpinan partisipatif.

Yaitu memfasilitasi suatu pembicaraan atau diskusi, memberi insights berupa informasi dan pengetahuan, mendorong para bawahan untuk memberikan ide, memilah informasi yang diterima, mengambil keputusan terbaik, dan memberikan update dari keputusan yang telah dipilih kepada anggota tim.

1. Memfasilitasi atau memulai suatu pembicaraan

 

Dalam Langkah pertama seorang pemimpin dalam kesehariannya berkewajiban untuk memulai suatu pembicaraan atau suatu diskusi agar bisa menemukan keputusan yang tepat dan pada umumnya seorang pemimpin selalu menetapkan prosedur atau SOP dalam bagaimana diskusi berlangsung.

 

Sebagai contohnya seorang pemimpin akan menetapkan aturan tetap yang dilakukan secara regular dalam melaksanakaan team meeting dengan topik yang pastinya juga berbeda-beda. Aturan tersebut bisa berupa  dimana seorang pemimpin mengemukakan pendapatnya terlebih dahulu lalu pemimpin meminta saran, masukan ataupun revisi dari pendapatnya sendiri. Begitu pula sebaliknya pemimpin bisa saja membuat aturan yang mengutamakan para bawahan untuk memberikan pendapat terlebih dahulu dan barulah sang pemimpin yang menambahkannya.

 

2. Membagi insights berupa informasi dan pengetahuan

 

Langkah kedua selain membuat aturan dalam berjalannya diskusi atau percakapan dalam suatu tim, seorang pemimpin juga bertanggungjawab dalam membagikan informasi yang dibutuhkan saat pemecahan masalah, dan juga seorang pemimpin berkewajiban membagikan pengetahuan kepada anggota tim atau bawahannya.

 

Pengetahuan yang dimaksudkan di sini dapat berupa ilmu yang dimiliki sang pemimpin ataupun skill yang dikuasai oleh seorang pemimpin. Hal ini penting dikarenakan dengan semakin banyak pengetahuan yang diberikan kepada bawahan, akan semakin maju juga para bawahan atau anggota tim dalam memberikan saran, masukan, maupun ide.

 

Tetapi bagaimanapun juga baik informasi ataupun pengetahuan yang diberikan sangat penting bagi pemimpin untuk menentukan mana informasi dan pengetahuan yang bisa di bagikan kepada para bawahan ataupun anggota tim.

 

Hal ini dikarenakan tingkat pengetahuan dan informasi yang tidak setara diberikan kepada bawahan atau anggota tim dapat  merusak pengambilan keputusan yang tepat.

 

Sebagai contoh, seorang marketing manager dari PT ABC berdiskusi dengan tim nya untuk membangun campaign marketing yang dapat meningkatkan engagement brand perusahaan-nya, walaupun sang manager mengetahui untuk meningkatkan engagement bisa dengan cara  membeli engagement, tetapi sang manager tidak memberikan/mengajarkan knowledge tersebut kepada anggota tim-nya.

 

3. Mendorong orang-orang untuk membagikan ide atau solusi nya

 

Langkah berikutnya seorang pemimpin yang menerapkan kepemimpinan partisipatif di sini juga harus bisa mendorong para bawahan atau anggota tim dalam memberikan pendapat atau ide-nya masing-masing dari sebuah masalah yang ingin dipecahkan. Cara ini juga bisa berupa brainstorming Bersama antara pemimpin and bawahan.

 

Hal ini selain dapat mengasah kreatifitas dan problem solving seorang bawahan atau anggota tim, bisa juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka dan terikat satu sama lain, karena pendapat atau ide yang diberikan dan digunakan dalam pemecahan masalah yang dihadapi suatu organisasi dapat membuat bawahan merasa dihormati.

 

4. Mensintesis Informasi yang tersedia

 

Langkah ke-empat, setelah selesai brainstorm Bersama antara pemimpin dan bawahan atau setelah menerima ide,pendapat, dan masukan dari para bawahan. Seorang pemimpin juga berkewajiban dalam mengumpulkan informasi dari para bawahan dan menganalisa-nya. Pemimpin akan menghabiskan waktu tambahan untuk mengeksplorasi dan memahami dari saran dan ide yang telah dikumpulkan.

 

Ide dan saran yang berupa informasi tersebut sang pemimpin juga perlu memilah mana informasi terbaik yang akan dijadikan dalam mengambil keputusan atau pemecahan suatu masalah. Karena dari informasi tersebut sang pemimpin akan mendapatkan hasil Analisa berupa pro dan kontra dari informasi tersebut.

 

5. Mengambil Keputusan yang Terbaik

 

Dalam Langkah yang kelima ini, seorang pemimpin yang sudah merasa mendapatkan cukup baanyak data dan insights dari para bawahan ataupun anggota tim-nya. Pemimpin dapat mengambil keputusan dari informasi yang disampaikan dari para bawahan-nya dan pada umumnya proses pengambilan keputusan di sini bisa sangat berbeda dikarenakan bergantung pada dimensi partisipasinya.

 

Semakin otokratik seorang pemimpin maka akan semakin sedikit informasi yang di ambil dari para bawahan atau anggota tim dalam pengambilan keputusan dan cenderung pemimpin hanya mengambil satu informasi yang baginya sangat berguna dalam memecahkan masalah, berbeda dengan pemimpin yang bertipe consensus sang pemimpin akan mengambil keputusan dari proses di mana semua bawahan atau anggota tim setuju dengan informasi yang diambil untuk pengambilan keputusan.

 

6. Memberi tahu keputusan yang telah diambil kepada yang lain

 

Bergantung pada bagaimana keputusan yang dibuat, langkah terakhir dalam framework kepemimpinan partisipatif di sini sangat berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin mengkomunikasikan keputusan tersebut kepada para bawahan dan anggota tim.

 

Pada umumnya pemimpin akan menjelaskan keputusan yang diambil kepada para bawahan dan memberikan alas an yang tidak merugikan pihak manapun di balik keputusan tersebut. Pada Langkah ini bawahan bisa memberikan saran ataupun kritik dari keputusan yang telah dibuat, walaupun keputusan telah ditentukan.

Penerapan Gaya Kepemimpinan Partisipatif dalam Lingkungan Kerja

Ketika sebuah tim dalam sebuah perusahaan sudah terlibat lebih dalam di lingkungan kerja perusahaan tersebut dan mengetahui tentang goal atau tujuan perusahaan dan juga masalah yang sedang dihadapi oleh perusahaan.

Tanggung jawab dalam memberikan informasi terletak pada kedua belah pihak yaitu sang pemimpin dan para bawahan atau karyawannya. Keduanya baik pemimpin dan karyawan wajib berpatisipasi dalam memberikan infromasi atau insights. Informasi yang dimaksudkan di sini adalah masalah atau goal dari perushaan dan juga informasi berupa saran dan ide.

Selain itu, sebuah masalah yang sedang dihadapi oleh suatu perusahaan haruslah dipahami dengan sangat baik oleh para stakeholders (pemimpin dan bawahan). Sehingga para stakeholders bisa membayangkan solusi seperti apa yang bisa mengatasi masalah tersebut.

Jika suatu masalah tidak dapat dipahami dengan betul-betul oleh para bawahan, maka kemungkinan besar hanyalah sang pemimpin yang bisa mengatasi masalah tersebut, dan akibatnya gaya  kepemimpinan partisipatif tidak terlaksana dengan baik, sehinga hal-hal ini akan terjadi:

  • Stakeholders tidak akan bekerjasama, pemimpin dan bawahan kerja masing-masing sesuai caranya
  • Partisipasi dalam sebuah tim tidak akan berjalan.
  • Ide-ide tidak akan ada, karena masalah tidak dipahami dengan baik.
  • Anggota tim mungkin merasa lebih kompetitif, saat rasa urgensi mulai terbangun.
  • Semangat mungkin akan menurun karena lingkungan yang sebelumnya terbuka dan kolaboratif berubah menjadi suram.
  • Jika dibiarkan, orang akan mencari cara untuk melepaskan diri dari situasi ini. (resign dari pekerjaan nya)

Oleh karena itu suatu masalah dan tujuan dari suatu perusahaan harus dipahami dengan baik oleh seluruh stakeholders agar pemimpin bisa menjelaskannya kepada bawahan dan bawahan bisa memahami dan membayangkan solusi terbaik untuk dijadikan saran ataupun ide.

Kelebihan dan Kekurangan Gaya Kepemimpinan Partisipatif

 

kelebihan kekurangan kepemimpinan partisipatif

Kelebihan

  • Penerimaan keputusan lebih dihargai
  • Meningkatkan moral karyawan
  • Mendorong solusi/ide yang kreatif
  • Meningkatkan Retensi Karyawan
  • Mengurangi Persaingan, Meningkatkan Kolaborasi

Kekurangan

  • Pengambilan Keputusan akan sangat lama dan tidak efektif
  • Ketidaksepakatan Selama Proses pengambilan keputusan dapat berakhir dengan adanya kebencian di antara para stakeholders.
  • Pengambilan keputusan yang memakan waktu yang lama dapat memotong waktu produktivitas bekerja
  • Perbedaan pengetahuan antar pimpinan dan bawahan dalam sharing knowledge, dapat berujung pada kesalahpahaman.
  • Semakin banyak Informasi sensitif yang diberikan kepada bawahan, semakin besar kemungkinan informasi tersebut bocor.

Karakter yang perlu dimiliki untuk menerapkan Gaya Kepemimpinan Partisipatif

 

karakteristik pemimpin partisipatif

 

  • Approachable (Mudah didekati), gaya kepemimpin yang partisipatif tidak akan berjalan jika bawahan merasa tidak nyaman untuk mendekati sang pemimpin. Oleh karena itu pemimpin perlu menjadi orang yang easygoing.
  • Good Communicator (Pembicara yang baik), Sebagai pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif, pemimpin perlu pintar dalam berbicara, karena gaya kepemimpinan partisipatif memerlukan 2 aspek penting dalam komunikasi, yaitu kemampuan menerima informasi dan kemampuan membagikan informasi.
  • Toughtful (bijaksana), tidak dipungkiri lagi seorang pemimpin memanglah harus bijak, apalagi saat mengambil keputusan. Dalam menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif, seorang pemimpin berhadapan langsung dengan sebuah tim yang di mana isinya penuh dengan orang-orang yang memiliki karakter yang beragam, sehingga pemimpin harus bisa bergaul dengan tim-nya dan bisa menerima masukan dari tim-nya.
  • Open minded (Berpikiran Terbuka), apapun dimensi kepemimpinan partisipatif yang difokuskan, seorang pemimpin perlu memiliki pikiran terbuka karena akan selalu berkonsultasi dengan para bawahan dan harus menerima masukan yang diberikan, walaupun bertentangan dengan kehendak sang pemimpin.
  • Empowering (memberdayakan), seorang pemimpin harus bisa memberdayakan para bawahan ataupun anggota tim-nya. Sebagai pemimpin yang partisipatif. Pemimpin harus memastikan bawahan memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan dirinya sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas seorang pemimpin dalam memberikan kesempatan sehingga para bawahan bisa menjadi pemimpin yang baik.

 

Kesimpulan

Sebagai seorang pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif, seorang pemimpin haruslah bisa menjadi seseorang yang menerima masukan dari berbagai pihak.

Hal ini dikarenakan pemimpin meminta pendapat, solusi, dan ide dalam menyelesaikan masalah dan mencapai tujuan suatu organisasi.

Selain itu pemimpin yang menerapkan gaya kepemimpinan partisipatif juga harus bisa berempati kepada para bawahan, dan jika ada masukan dari bawahan yang tidak sesuai dan tidak dipilih menjadi salah satu solusi yang bisa dilaksanakan.

Pemimpin di sini harus bisa berkomunikasi dan meng-informasikannya kepada bawahan yang memberikan solusi.

Gaya kepemimpinan partisipatif pastinya akan sangat berkaitan dengan emosi, oleh karena itu agar seorang pemimpin di sini bisa menjaga emosinya agar tetap stabil.

Seorang pemimpin juga perlu menjaga ketahanan tubuh dan tidak mudah sakit.

Karena dengan tubuh yang sehat dan kuat, kemampuan seorang dalam memimpin tim-nya juga akan semakin baik, dengan emosi yang tentunya terjaga dan stabil.

 

Redaksi Pemimpin.ID