InspirasiGaji Guru Indonesia Masih ‘Malu’ Bersaing

Redaksi Pemimpin.IDDecember 2, 20199
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/IMG20180623154547-1280x960.jpg

B-A, Ba … C-A, Ca, Baca .
B-O, Bo … L-A, La. Bola..

Begitulah suasana sore itu di tepian pantai Pulau Masela, Maluku Barat Daya ketika anak-anak ramai berkumpul dengan membawa bukunya masing-masing. Mereka saling mengajar satu lama lain. Biasanya, seorang kakak kelas membantu adik kelasnya untuk membaca. Itu sudah jadi sebuah kebiasaan bagi mereka.

Ibu Guru mereka di sekolah selalu berpesan, jika tidak ada guru di kelas, mereka harus tetap belajar.

“Anak-anak, kamong bisa bantu Ibu Guru, kah?” (Anak-anak bisa bantu Ibu Guru, kah?)

“Bisa, Ibu Guru.”

“Kamong su tahu to, katong seng punya banya guru di sini?” (Kalian sudah tahu kan, kita tidak punya banyak guru di sini?)

“Su tahu Ibu Guru.” (sudah tahu Bu Guru)

“Sekarang kamong bantu Ibu Guru par jadi Bapa/Ibu Guru di kelas, ya.” (Sekarang kalian bantu Ibu Guru untuk jadi Bapak/Ibu Guru di kelas, ya)

“Mau Ibu Guru, mau.”

“Jadi nanti kelas 6 ajar kelas 5 dan kelas 4 perkalian. Kamong baku bantu. Ibu Guru ajar baca anak-anak kelas 1 sampai 3”.

Begitulah apel pagi yang terjadi di sebuah sekolah di Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya. Jumlah guru di sekolah itu memang tidak mampu menjangkau jumlah rombongan belajar yang ada. Murid pun mau tak mau ikut menjadi guru. Ini baru sebagian kecil fakta pendidikan di sudut Indonesia.

Anak sekolah membaca buku di pinggir pantai

Suatu ketika, seorang guru honorer di sekolah itu berkeluh kesah tentang gaji yang belum juga dibayar. Awalnya aku terkejut mendengarnya, tapi hal itu nyata. Biasanya, mereka menerima gaji setiap 3 bulan sekali.

Kalau begitu, bagaimana menutup kehidupan sehari-hari? Jelas, mereka harus berhutang, tidak hanya untuk makan tapi juga untuk kebutuhan anak mereka yang masih bayi.

Tidak sama seperti kehidupan di kota, suasana hidup di desa masih sarat dengan nilai gotong-royong – hidup bersama. Mereka saling memahami dan sangat tidak perhitungan untuk urusan perut.

Cerita yang sama juga dialami oleh Nidhomul Huda (29), seorang guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatut Tholibin, Mulyoharjo, Kabupaten Jepara. Mengutip berita yang ditulis oleh merdeka.com pada tanggal 26 November 2019, Huda berjualan kain untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Maklum, gaji yang dia terima sangat minim sehingga dia harus mencari pundi-pundi lain.

Awal mula menjadi guru, Huda sempat ragu karena gaji yang diterima dengan kebutuhan hidupnya sangat tidak sebanding. Gaji Huda dalam sebulan hanya berkisar Rp 300.000.

“Sempat terlintas meninggalkan profesi guru. Saya pikir anak didik saya kasihan, dia butuh kami untuk mendidik,”

katanya sebagaimana dikutip dari merdeka.com.

Tak ingin larut dalam situasi yang memilukan, Huda lantas mencari akal untuk menambah sumber penghasilan, salah satunya dengan berjualan kain. Dia tak ingin meninggalkan profesinya sebagai guru. Baginya, profesi tersebut sangat berharga karena dapat melihat proses belajar anak, menemani mereka membaca, menulis, dan berhitung.

“Kami punya kesempatan mendidik siswa sekolah menjadi pintar. Itu yang membuat kami semangat mengajar. Tidak sampai hati meninggalkan mereka,” imbuhnya.

Isu kesejahteraan guru tampak seperti tidak berujung. Semua kalangan berupaya memantulkan suaranya ke para pemangku kepentingan, namun mereka tampak diam.

Baca juga : Pidato tentang Guru, Nadiem Tahu Apa?

Sampai saat ini pun, para guru honorer masih menantikan adanya kemerdekaan atas kesejahteraan hidup mereka. Pengabdian mereka yang tanpa batas bagi anak-anak negeri sudah selayaknya mendapat puji dan kesejahteraan. Sayangnya, wacana pengangkatan guru honorer menjadi PNS saat ini seperti mimpi di siang bolong.

Litbang Kompas pernah melakukan penelitan pada tahun 2015 tentang perbandingan gaji guru di Indonesia dengan guru-guru di negara ASEAN. Litbang Kompas menggunakan standar PNS golongan III/A untuk melihat perbandingannya.

Sumber : Litbang Kompas 2015

Terlepas dari gambaran gaji guru PNS yang juga masih kalah bersaing, melihat gaji guru honorer sebenarnya menunjukkan bahwa Indonesia tampaknya masih malu untuk bersaing setidaknya dengan Upah Minimum Regional (UMR) daerah sendiri. Persoalan ini semoga dianggap menjadi tantangan oleh semua pihak untuk maju menjadi negara yang lebih baik.

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019