JurnalEvaluasi Pembelajaran

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/09/k-mitch-hodge-C7agTDPKlZU-unsplash-1280x720.jpg

Belajar, kata yang cukup familiar di telinga kita. Kita sudah melakukannya sejak kecil, baik secara formal maupun informal. Secara formal kita sudah melakukannya sejak SD, bahkan TK. Memasuki pasca kampus, belajar sudah tidak lagi dilakukan di dalam kelas. Kita lebih banyak belajar dari kehidupan. Namun tidak jarang kitapun melakukan pembelajaran di kelas melalui training kantor atau bahkan melaui online course gratis yang tesebar di internet.

Ditengah kondisi WFH ini, banyak lembaga memberikan course gratis atau setidaknya berbiaya murah. Banyaknya online course gratis ini kadang membuat kita bingung menentukan mana yang efektif untuk kita. Kita perlu mengambil online course yang paling efektif berdampak untuk kehidupan kita. Namun pertanyaannya:

online course yang seperti apa yang efektif membawa hasil positif untuk kita?”

Kita mungkin tidak bisa menjawabnya jika tidak tahu cara mengukurnya. Di dunia training atau pelatihan, ada salah satu model evaluasi training yang populer. Namanya Kirkpatrick model, model evaluasi ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1959 oleh Donald Kirkpatrick, seorang profesor di Universitas Wisconsin.

Model ini sebenarnya digunakan untuk mengevaluasi hasil training di perusahaan. Namun pada tulisan ini saya ingin mencoba menggunakan pendekatan model ini untuk mengevaluasi hasil pembelajaran individu terhadap online course yang dilakukan selama WFH.

Model ini membagi evaluasi pembelajaran menjadi 4 level, yakni level reaction (reaksi), learning (pembelajaran), behavior (tingkah laku), dan result (hasil akhir). Mari kita bedah satu persatu.

Level 1: Reaction

Level ini mengukur bagaimana peserta training bereaksi atas training yang didapatkan. Yang diukur adalah reaksi terhadap kualitias trainer dalam menyampaikan materi, teknis pelatihan, sampai ke tempat pelatihannya. Pengukuran ini jadi penting karena reaksi ini jadi hal yang mendasar. Bagaimana bisa seorang memahami pembelajarannya jika reaksi terhadap training-nya saja buruk. Merasa tidak nyaman terhadap komponen-komponen penyusun trainingnya.

Jika diimplementasikan terhadap pembelajaran individu, kita perlu memahami seberapa nyaman kita terhadap online course-nya. Apakah instrukurnya memberikan materi dengan nyaman, apakah tempat kita belajar adalah tempat yang nyaman, apakah kecepatan instruktur dalam memberikan materi sudah sesuai, dan lainnya. Jika pada level ini saja penilaian kita terhadap course-nya sudah buruk, sebaiknya tidak usah diteruskan. Karena efort yang dibutuhkan untuk memahami materinya akan lebih besar.

Level 2: Learning

Level ini mengukur seberapa baik pemahaman kita terhadap materi yang diberikan dalam training. Yang diukur adalah peningkatan pengetahuan dari peserta training. Dalam training biasanya dilakukan dengan cara pre test dan post test.

Level 2 ini pun bisa diimplementasikan untuk kita bisa mengukur seberapa baik pemahaman kita terhadap materi online course. Biasanya jika course-nya berbayar, sudah disediakan quiz atau post test. Namun jika tidak disediakan cobalah untuk menuliskan kembali hasil pembelajranmu lewat tulisan. Dari sana kamu bisa melihat seberapa paham kamu dengan pembelajaran online yang kamu ikuti tersebut.

Level 3: Behavior

Level ini mengukur seberapa besar perubahan perilaku yang pegawai lakukan setelah menerima training. Bagaimana seorang karyawan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang didapatnya terhadap pekerjaan. Level ini relatif lebih sulit dibandingkan dengan level 1 dan 2 karena terdapat faktor external yang mempengaruhi, yakni lingkungan kerja. Dalam training biasanya dilakukan dengan cara monitoring dan evaluasi (monev). Biasanya di akhir sesi training peserta akan diminta untuk membuat action plan implementasi pelatihan. Action plan inilah yang akan dimonitoring dan dievaluasi selama masa monev.

Jika diimplementasikan kepada pembelajaran individu di tengah pandemi ini, kamu bisa melakukannya dengan metode yang sama. Pada akhir pembelajaran online, kamu perlu membuat action plan untuk mengimplementasikan ilmunya. Nantinya kamu bisa cek bertahap, apakah kamu benar benar menjalankan action plan-nya atau tidak. Atau kamu bisa melibatkan orang lain untuk membantu kamu memonitoring hasil pembelajaran. Misalnya orang tua, adik atau, teman dekat.

Level 4: Result

Level ini adalah level yang paling tinggi dalam pengukuran hasil training. Level ini mengukur hasil akhir dari training pegawai. Bisanya kalau di perusahaan level ini diukur oleh ROI (return of invesment). Bisa juga diukur dengan peningkatan efisiensi waktu kerja, peningkatan penjualan (sales), ataupun peningkatkan kepuasan pelanggan.

Level 4 ini jika diimplementasikan dalam pembelajaran individu, kamu bisa mengukur dengan ROI juga. Atau kamu juga bisa melihat dampaknya terhadap kehidupan kamu, apakah setelah training ada peningkatan kualitas hidup, peningkatan hard skill, atau peningkatan kualitas hubunganmu dengan keluarga. Yang pasti pada level ini yang diukur adalah hasil akhir dari pembelajaran kamu.

—————————

Namun sebelum masuk ke tahap evaluasi pembelajaran, kamu perlu menentukan tujuan pembelajarannya di awal. Sehingga ketika kamu mengambil sebuah online course kamu sendiri paham apa yang ingin kamu kejar dari pembelajaran ini. Apakah levelnya sampai ke result ataukah cukup sampai ke pengetahuan saja.

Kesemua ini adalah metode yang bisa memudahkanmu untuk mengevaluasi hasil pembelajaran. Namun seberapa baik hasil pembelajarannya tetap akan tergantung pada dirimu dalam menjalani pembelajaran.

Masa pandemi ini pasti akan berakhir, saat ini banyak kesempatan untuk belajar online selama di rumah. Pastikan pilih yang paling efektif dan sesuai untukmu, tentunya yang sesuai dengan tujuan pembelajaran kamu.

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020