HeadlineJurnalEmotion: Regulate Before It’s Too Late!

Ainun RahmaMay 4, 2020221
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/05/s-b-vonlanthen-FaiZNiofP-U-unsplash-1280x855.jpg

Dalam kondisi karantina seperti ini, banyak situasi atau kejadian yang kita hadapi membuat kita memunculkan reaksi emosi tertentu. Seperti misalnya jaringan internet yang lambat ketika sedang melakukan video call dengan klien, kegembiraan yang dirasakan ketika terkoneksi kembali dengan teman lama, perasaan suntuk karena harus tinggal #DiRumahAja, dan situasi-situasi emosional lainnya.

Dari situasi tersebut, terkadang ada saja saat di mana kita tidak bisa mengendalikan emosi sehingga reaksi emosi yang kita berikan terlalu berlebihan. Emosi yang berlebihan ini dapat membuat kita melakukan atau mengatakan hal-hal yang mungkin akan kita sesali kemudian. Lalu saat berada dalam situasi tersebut, apa yang bisa kita lakukan?

Emosi yang kita rasakan merupakan bentuk respon kita terhadap situasi yang sedang kita hadapi. Situasi yang dihadapi bisa berupa situasi fisik yang ada di depan mata, bayangan imajinasi dalam pikiran, maupun kenangan yang teringat kembali.

Dari beragam situasi yang kita hadapi, ada situasi tertentu yang menarik perhatian kita sehingga kita langsung memberikan makna pada situasi itu. Sampai akhirnya memunculkan respons emosi tertentu. Nah, tidak semua respons emosi yang kita rasakan memberikan keuntungan untuk kita.

Ketika emosi yang dirasakan terlalu kuat atau lemah intensitasnya atau terlalu singkat maupun lama durasinya, hal tersebut bisa berdampak negatif untuk kita. Bahkan bisa saja kita memunculkan respons emosi yang tidak cocok dengan situasi yang sedang dihadapi. Oleh karena itu, penting untuk kita bisa meregulasi emosi yang kita rasakan.

Sumber : Unsplash

Regulasi emosi merujuk pada usaha kita untuk memengaruhi emosi yang kita rasakan, bagaimana kita merasakannya, kapan merasakannya, serta bagaimana kita merasakan dan mengekspresikan emosi tersebut. Pada saat kita merasa bahagia, maka sudah sewajarnya kita menampilkan ekspresi emosi senang dengan tersenyum lebar, pipi yang terangkat, serta mata yang terlihat seperti bersinar. Begitu pula saat kita merasa sedih membuat kita meneteskan air mata.

Menurut Gross dan Thompson (2007), ada lima strategi regulasi emosi yang dapat dilakukan sesuai dengan tahap kemunculan respons emosi. Yang pertama yaitu dengan memilih situasi.

Strategi ini merupakan strategi regulasi emosi paling awal yang bisa kita lakukan. Kita bisa memilih untuk menghindar atau mendekati situasi tertentu. Misal kita menghindari kemacetan dengan berangkat kerja lebih pagi atau memilih menyelesaikan tugas kantor secepat mungkin supaya bisa bermain dengan anak. Jadi kita memilih atau menghindari situasi-situasi yang bisa memunculkan emosi tertentu.

Ketika situasi telah kita hadapi, maka ada tiga strategi regulasi yang bisa dilakukan, yaitu memodifikasi situasi yang sedang dihadapi (misal menyalakan musik selama menghadapi kemacetan atau makan cemilan untuk menemani perjalanan), mengalihkan perhatian dari situasi yang dihadapi (misal ikut bernyanyi mengikuti lagu yang sedang didengarkan), atau mengubah persepsi kita terhadap situasi tersebut (misal menganggap kemacetan yang dihadapi memang wajar adanya karena rute jalan yang dilalui setiap hari merupakan rute rawan macet).

Ketika respons emosi sudah muncul, maka strategi regulasi yang bisa dilakukan yaitu dengan mengubah respons emosi yang dirasakan. Contoh mengubah respons emosi yaitu dengan menekan (suppress) emosi yang sebenarnya dirasakan serta menampilkan emosi yang tidak sebenarnya dirasakan,

Dari kelima strategi regulasi emosi yang bisa kita lakukan, strategi mengubah respon emosi merupakan strategi yang cenderung memberikan dampak negatif terhadap kita. Ini karena dengan mengubah respons, maka kita menyembunyikan atau bahkan memalsukan emosi yang sebenarnya tidak kita rasakan. Dampak dari hal ini bisa menimbulkan perasaaan tidak otentik dalam diri karena kesenjangan antara yang dirasakan sesungguhnya dengan apa yang ditampilkan. Kebalikan dengan mengubah respon, strategi mengubah persepsi terhadap situasi yang dihadapi dianggap memberikan dampak positif.

Sumber : Unsplash

Dengan mengubah persepsi kita terhadap situasi yang dihadapi, maka kita tidak sampai merasakan emosi negatif yang mungkin akan dirasakan sehingga hal ini memberikan kita kesempatan lebih banyak untuk merasakan emosi positif. Orang-orang dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung menggunakan strategi ini untuk meregulasi emosinya dibandingkan strategi lainnya.

Dari penjelasan di atas, penting bagi kita untuk meregulasi emosi yang kita miliki supaya dampaknya tidak mengarahkan kita untuk melakukan atau mengatakan hal-hal yang akan kita sesali setelahnya. Dengan mengubah persepsi kita terhadap situasi yang dihadapi, kita bisa merasakan lebih banyak emosi positif yang juga memberi dampak terhadap kesejahteraan diri sendiri.

Referensi:

Gross, J. J., & Thompson, R. A. (2007). Emotion regulation: Conceptual foundations. In J. J. Gross (Ed.), Handbook of emotion regulation (pp. 3–27). New York, NY: Guilford Press.

Ainun Rahma

Pemimpin.ID 2019 - 2020