Ensiklopedia PemimpinDefinisi Pemimpin yang Bekerja dengan Hati: Kepemimpinan Otentik (Authentic Leadership Theory)

Avatar Pemimpin.IDFebruary 13, 2021850
pexels-fauxels-3183197

Oleh: Shania Aulia (Intern di Research Team Pemimpin ID)

 

Apa itu Kepemimpinan Otentik?

Kepemimpinan otentik merupakan gaya kepemimpinan yang berfokus pada penyelarasan karakter seseorang dengan nilai yang ada di dalam kelompok atau organisasi agar berjalan secara efektif. Seseorang dengan gaya kepemimpinan ini harus mampu jujur pada dirinya sendiri dan pengikutnya terkait nilai apa yang hendak dibawa agar dapat bekerja sama secara maksimal.

 

Sejarah singkat

Sejarah mengenai gaya kepemimpinan ini dapat dilacak secara bahasa. Otentik atau authentic berasal dari bahasa Yunani yang dalam filosofi Yunani berarti menjadi dirimu yang sesungguhnya (to thine own self be true). Sebelum menuntut kebenaran dari orang lain, pemimpin harus mulai dengan kebenaran diri sendiri, pengenalan, dan pengendalian diri. Pada tahun 1960-an, wacana tentang gaya kepemimpinan ini mulai ramai dikaji dan didiskusikan. Pertanyaan sentral dalam diskusi kepemimpinan ini yaitu, “Bagaimana para pemimpin menentukan peran mereka dalam konteks kebenaran dalam kehidupan organisasi?” Wacana tentang kepemimpinan otentik terus berkembang hingga seorang profesor dari Harvard University bernama Bill George dalam bukunya Authentic Leadership dan ditindaklanjuti dengan buku best selling pada tahun 2007 (ditulis  bersama dengan Peter Sims) berjudul True North: Discover Your Authentic Leadership, menganjurkan agar setiap pemimpin mencari dan menemukan esensi kepemimpinan otentik dalam dirinya dan melaksanakannya untuk kehidupan organisasi yang  lebih bermakna dalam jangka panjang.

 

Kepemimpinan ini dinilai dibutuhkan di zaman modern yang dicirikan dengan lingkungan yang berubah secara dramatis. Maka dari itu, kepemimpinan otentik dinilai menjadi gaya kepemimpinan yang lebih dapat dipersonalisasikan dibanding gaya kepemimpinan lain seperti kepemimpinan karismatik.

 

Karakteristik

Terdapat beberapa karakteristik dari kepemimpinan otentik (Kruse, 2013), yaitu

1. Authentic leaders are self-aware and genuine

Pemimpin-pemimpin yang otentik adalah individu yang mengaktualisasikan dirinya dengan memiliki self-awareness (kesadaran diri). Mereka mengetahui kekuatan dan kelemahan pada diri mereka sendiri dan emosi mereka. Mereka juga tidak berperilaku berbeda di berbagai kondisi, dengan kata lain mereka menjadi diri mereka di hadapan para pengikutnya. Mereka juga tidak takut untuk terlihat lemah dengan mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan kegagalan yang pernah mereka lalui. 

2. Authentic leaders are mission-driven and focused on results 

Mereka mampu menempatkan misi-misi untuk mencapai tujuan orang banyak atau organisasi di atas tujuan pribadi. Mereka melakukan pekerjaan mereka untuk mencapai hasil bukan untuk kekuasaan, ego, dan keinginan materi pribadi. 

  • Authentic leaders lead with their heart

Mereka tidak takut untuk menunjukkan emosi-emosi yang mereka miliki, kerentanan mereka terhadap karyawan. Namun bukan berarti mereka “lembek”, akan tetapi dapat mengomunikasikan apa yang dirasakan dengan tata cara yang tepat secara empatik. 

  • Authentic leaders focus on the long term

Mereka fokus untuk hasil jangka panjang, bersedia untuk membimbing setiap orang dan memelihara organisasi dengan sabar dan kerja keras karena mereka yakin dengan hasil yang akan bertahan untuk jangka waktu yang lama

 

Dimensi 

Aspek-aspek kepemimpinan otentik menurut Walumbwa et al. (2008) di antaranya adalah sebagai berikut: 

1. Self-Awareness (Kesadaran Diri) 

Cara seseorang memandang dan memahami dirinya sendiri dari waktu ke waktu, serta kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Hal ini mencakup wawasan mengenai dirinya berdasarkan sudut pandang orang lain (Kernis, dalam Winbaktur & Sutono, 2019). Misalnya, seorang pemimpin menyadari bahwa ucapan dan tindakan tertentu dapat memberikan dampak bagi orang lain. 

2. Relational Transparency (Relasi yang Transparan) 

Persepsi pengikut terhadap perilaku pemimpin yang menampilkan dirinya secara asli dalam berinteraksi dengan orang lain, bukan pencitraan diri maupun perubahan bentuk diri. Misalnya, seorang pemimpin menampilkan sifatnya secara  orisinal dan tanpa dibuat-buat dengan maksud pencitraan (Kernis, dalam Winbaktur & Sutono, 2019). Contoh, seorang pemimpin mengakui kesalahan yang telah dilakukannya. 

3. Balanced Processing (Pemprosesan yang Seimbang) 

Menunjukkan seorang pemimpin yang secara objektif menganalisis semua informasi dan data yang ada secara relevan sebelum mengambil keputusan. Misal, seorang pemimpin ketika akan mengambil keputusan melihat dari berbagai sudut pandang serta menganalisis berbagai informasi terlebih dahulu (Gardner, Avolio, Luthans, dkk., 2005). Contoh, seorang pemimpin akan memperhatikan dengan seksama sudut pandang yang berbeda sebelum mengambil keputusan. 

4. Internalized Moral Perspective (Perspektif Moral yang Terinternalisasi) 

Merupakan gambaran bawahan terhadap atasan mengenai internalisasi dan regulasi diri, artinya adalah apabila atasan membuat suatu keputusan maka keputusan tersebut sesuai dengan regulasi diri atau tidak bertentangan dengan nilai moral yang dianutnya. Misalnya, pemimpin yang ketika mengambil keputusan berdasarkan standar nilai moral/etika yang telah ditetapkan (Ryan & Deci, dalam Winbaktur & Sutono, 2019). Contoh, seorang pemimpin mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai hidup yang diyakininya

 

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

  • Peningkatan keterlibatan relasional yang dihasilkannya. 

Pemimpin dengan gaya ini akan fokus pada tujuan dan perilaku serta nilai-nilai batin seseorang. Pemimpin lebih mampu menjaga kepercayaan dan kohesi di antara kelompok. Fokusnya adalah memberdayakan karyawan dan membimbing mereka melalui tugas dengan cara yang empatik dan jujur. 

  • Fokus pada hubungan karyawan-pemimpin adalah pada pengembangan dan mendengarkan ide dan pemikiran orang. 

Hubungan terbuka, yang tidak berarti semuanya selalu kebahagiaan dan kesepakatan, menciptakan lingkungan yang otentik, sehingga orang-orang mengetahui tempat mereka dalam organisasi dan arah kerja tim. 

  • Konsistensi gaya kepemimpinan otentik yang dapat diberikan untuk organisasi. 

Ini adalah nilai-nilai batin pemimpin, dikombinasikan dengan tujuan operasional organisasi, yang merupakan inti dari cara kerja tim. Ini berarti bawahan tahu apa yang diharapkan di saat-saat sulit dan senang.

  • Cenderung menjamin standar etika dan moral yang tinggi. 

Gaya ini menekankan penggunaan moralitas sebagai pedoman kepemimpinan, sehingga organisasi dapat memiliki pijakan etika yang lebih kuat. 

 

Kekurangan 

1. Teori kepemimpinan otentik tidak memiliki teori yang koheren atau terpadu

Penulis yang berbeda menambahkan cita rasa mereka sendiri pada apa artinya menjadi pemimpin sejati. Oleh karena itu, analisis yang tepat tentang manfaat dan pengukuran keaslian bisa jadi sulit.

 

2. Komponen moral dapat menyebabkan tujuan yang bertentangan dalam suatu organisasi

Nilai pemimpin mungkin tidak selalu sejalan dengan apa yang benar untuk organisasi atau pemegang sahamnya. Padahal, kebutuhan bawahan dan pemangku kepentingan lainnya mungkin tidak selalu dapat dipenuhi. Oleh karena itu, seorang pemimpin mungkin mendapati dirinya dalam situasi yang menuntut mereka mengorbankan nilai batin mereka dengan memberikan bonus karyawan atau menumbuhkan potensi penjualan perusahaan.

 

3. Kepemimpinan otentik mungkin menghalangi kemampuan organisasi untuk membuat keputusan cepat

Pemimpin ingin mengumpulkan umpan balik dan mendengarkan pendapat lain sebelum menggunakan penilaiannya, sehingga kecepatan pengambilan keputusan dapat terancam.

 

Contoh

  • Howard Schultz di Starbucks

Howard Schultz bisa dibilang memenuhi standar “authentic leaders lead with their heart”. Sepanjang kariernya di Starbucks, perhatian utama Schultz adalah pada kesejahteraan karyawannya. Hal tersebut mungkin dikarenakan pengalaman ayahnya saat mendapat kecelakaan dan tidak memiliki asuransi kesehatan, untuk itu kemudian Schultz memberikan fasilitas kesehatan dan kepemilikan saham kepada semua karyawannya, termasuk karyawan paruh waktu (part-time). Bahkan Starbucks di AS juga memberikan uang penggantian biaya bagi karyawan yang melanjutkan kuliah.

 

  • Bob Sadino

Bob Sadino memiliki cara yang berbeda dalam mengawasi karyawannya, yaitu dengan ikut bekerja seperti rekan kerja yang lain tanpa membedakan karyawannya dari top sampai karyawan paling rendah. Bahkan beliau sering mengajak istri dan anaknya untuk “nongkrong” di tempat kerja. Ini menggambarkan ciri-ciri “authentic leaders are self-aware and genuine”, sebab terlihat bahwa Bob Sadino tampil apa adanya sebagai seorang pemimpin dan sekaligus manusia.

 

Referensi

George, B., & Sims, P. (2007). True north: Discover your authentic leadership. Jossey-Bass/John Wiley & Sons.

Kruse, K. (2013, May 12). What is authentic leadership? Forbes. https://www.forbes.com/sites/kevinkruse/2013/05/12/what-is-authentic-leadership/?sh=e9f9e65def77

Luenendonk, M. (2016, August 18). Authentic leadership guide: Definitions, qualities, pros & cons, examples | cleverism. Cleverism. n https://www.cleverism.com/authentic-leadership-guide/

Luthans, F., & Avolio, B. (2003). Authentic leadership development. https://cerf.radiologie.fr/sites/cerf.radiologie.fr/files/Enseignement/DES/Modules-Base/Luthans%20%26%20Avolio%2C%202003.pdf

Walumbwa, F. O., Avolio, B. J., Gardner, W. L., Wernsing, T. S., & Peterson, S. J. (2008). Authentic leadership: Development and validation of a theory-based measure†. Journal of Management, 34(1), 89–126. https://doi.org/10.1177/0149206307308913

Winbaktinur, & Sutono. (2019). Kepemimpinan otentik dalam organisasi (p. 75). Jurnal AL-Qalb.https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/alqalb/article/download/830/653

‌Picture by: Fauxel

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.