JurnalLeaders StoryDecision Making Efektif dalam Kelompok

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/07/antenna-cw-cj_nFa14-unsplash-1280x853.jpg

Apakah kamu pernah memiliki pengalaman bekerja dalam sebuah organisasi, kepanitiaan, atau perusahaan? Kalau pernah, pastinya kamu pernah bertugas yang mengharuskan kamu untuk mengambil keputusan bersama anggota lain. Tentunya, pengambilan keputusan secara individu dan kelompok akan mencakup proses dan aturan yang berbeda.

Ahli saraf Mariano Sigman dan profesor psikologi Dan Ariely telah bereksplorasi bagaimana manusia berinteraksi untuk mencapai sebuah keputusan. Mereka mengadakan beberapa eksperimen sosial dengan kelompok-kelompok besar, seperti penonton.

Sigman dan Ariely ingin menyelesaikan konflik antara dua ide yang bertentangan. Di satu sisi, ada pendapat bahwa pengambilan keputusan secara individu adalah yang terbaik karena bebas dari pengaruh orang lain dan lingkungan. Di sisi lain, group decision making akan menghasilkan solusi yang lebih optimal karena menggabungkan opini beberapa individu.

Maka, mereka ingin mencari tahu bagaimana mencapai group decision making yang efektif. Jawaban yang mereka temukan adalah keseimbangan antara 2 hal: deliberation (mempertimbangkan ide dengan baik) dan diversity of opinions (mengumpulkan pendapat yang berbeda). 

Menurut mereka, cara yang paling efektif untuk menerapkan keduanya adalah membagi anggota untuk berdiskusi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan cara ini, opini semua anggota dapat tersalurkan dan didiskusikan.

Kemudian, penelitian dari Dr. Dan Bang dan Profesor Chris Frith dari The Royal Society juga menyumbang beberapa strategi lain. Salah satunya adalah menetapkan peraturan ketika melakukan diskusi. Misalnya, penetapan durasi bagi masing-masing individu untuk menyampaikan pendapatnya tanpa diganggu anggota lain. Contoh lain adalah mengumpulkan saran anggota secara anonim agar mereka dapat menyampaikan opini dengan sepenuhnya. 

Pemimpin dapat mendorong proses diskusi yang mengedepankan informasi yang relevan dan akurat dari sumber yang terpercaya. Walaupun opini anggota juga sebaiknya dipertimbangkan, diskusi mengenai fakta dan bukti seharusnya diutamakan agar dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil benar-benar tepat.

Pemimpin juga seharusnya menantang solusi tradisional dan bersikap terbuka terhadap ide-ide baru. Dalam kata lain, think outside the box, karena strategi yang sering diterapkan orang lain belum tentu menghasilkan keputusan yang terbaik. Gunakan kreativitas diri sendiri dan anggota organisasimu untuk bersama-sama merumuskan solusi yang tidak konvensional.

Kemudian, periksa kembali bahwa kamu dan anggota lain sudah waspada akan pengaruh bias individu maupun kolektif. Bias bekerja secara tidak sadar dalam pikiran semua orang, dan dapat mengganggu dalam pengambilan keputusan. Cara menanggulanginya adalah memahami bias tersebut agar dapat menghindarinya.

Sebelum menetapkan suatu keputusan, pastikan bahwa seluruh anggota setuju untuk berkomitmen dalam menjalankan keputusan tersebut. Anggota tidak harus sepenuhnya setuju dengan keputusan yang diambil, tetapi yang penting adalah mereka berkomitmen padanya.

Sumber : Cytonn Photography – unsplash

Hal ini dapat dijelaskan oleh istilah disagree and commit. Jeff Bezos, CEO dan pendiri Amazon, mengatakan bahwa beliau mempraktikkan disagree and commit ketika bekerja dengan karyawan lain. 

Secara singkat, disagree and commit adalah perjanjian antara anggota atau karyawan dalam sebuah organisasi untuk berkomitmen dalam menjalankan tugasnya agar mencapai tujuan yang sudah disepakati. Dalam kata lain, seorang karyawan boleh memegang dan menyatakan ketidaksetujuan. Tetapi ia harus mempercayai keputusan tersebut dan berkomitmen untuk merealisasikannya.

Bezos mengatakan bahwa disagree and commit hanyalah “penyampaian ketidaksetujuan yang tulus, ekspresi pendapat pribadi yang jujur, kesempatan bagi tim untuk mempertimbangkan pandangan tersebut, dan komitmen tulus untuk mengikuti keputusan yang sudah ditentukan”.

Ed Muzio, CEO dari Group Harmonics, menyatakan ide tambahan dalam penerapan disagree and commit. Katanya, setelah mencapai sebuah keputusan, kamu dan anggota lain dianjurkan untuk mencari bukti yang bertentangan dari keputusan tersebut. Namun, informasi yang bertentangan tersebut jangan digunakan untuk menghalang eksekusi dari keputusan yang sudah dibuat, melainkan disimpan.

Apabila keputusan yang diambil berhasil atau efektif, kamu boleh membuang informasi yang bertentangan tersebut. Namun, apabila tidak berhasil, kamu bisa mengangkat informasi tersebut ketika berdiskusi untuk menentukan alternatif solusi.

Dalam banyak kasus, usaha mengambil keputusan dengan sekelompok orang lain bukan hal yang mudah. Tetapi, kamu sebagai pemimpin harus menghadapinya dengan pikiran terbuka dan siap untuk mendengarkan ide-ide anggotamu. Kalau tidak, apa gunanya bekerja bersama orang lain?

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020