JurnalComplex Problem Solving 101

Redaksi Pemimpin.IDJuly 29, 202037
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/07/hans-peter-gauster-3y1zF4hIPCg-unsplash-1280x855.jpg

Problem solving merupakan kegiatan yang dilakukan semua orang di kehidupan sehari-hari. Namun, seiring berkembangnya budaya dan teknologi di dunia, kita akan bertemu dengan berbagai masalah yang bervariasi. Oleh karena itu, kita tidak hanya membutuhkan problem solving, namun kita juga harus mulai menguasai complex problem solving. 

Complex problem solving semakin dibutuhkan di era modern. Menurut World Economic Forum, dunia kerja di hari ini akan terus berkembang menjadi semakin kolaboratif, dalam arti kita akan lebih banyak bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai bidang kerja yang lain. Selain itu, kita juga akan berhadapan dengan teknologi yang mampu melakukan problem solving dengan sendirinya. Maka, membangun kompetensi dalam complex problem solving juga berguna untuk memecahkan masalah yang solusinya tidak dapat disediakan oleh teknologi.

Namun, pada paling dasarnya, complex problem solving dibutuhkan karena pemecahan masalah yang kompleks akan menuntut keterampilan, pengetahuan, dan strategi yang berbeda dengan pemecahan masalah yang sederhana.

Dr Sholom Glouberman dan Dr Brenda Zimmerman mengatakan bahwa masalah kompleks terkadang disebut sebagai “wicked problems” karena tidak dapat dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana. Maka, untuk memecahkan sebuah masalah kompleks, solusi yang digunakan sebaiknya didasarkan pada pendekatan dan perencanaan yang rasional.

Hal yang harus diingat adalah bahwa solusi pada suatu masalah kompleks tidak dapat berfungsi sebagai resep atau petunjuk yang dapat diterapkan pada masalah lainnya. 

Glouberman dan Zimmerman membandingkan dua buah masalah: menerbangkan roket ke bulan dan membesarkan anak. Keduanya bukanlah masalah yang sederhana, dan membutuhkan tenaga serta waktu yang banyak dalam memecahkannya. Tetapi, mereka memiliki satu aspek yang berbeda. 

Misalnya, kamu sudah sukses menerbangkan sebuah roket. Kemudian, kamu dapat memanfaatkan kembali rumus-rumus dan sumber daya yang digunakan tadi untuk menerbangkan roket lain. Iya tidak? Ketika kamu berhasil menerbangkan sebuah roket, rencana yang kamu pakai bisa digunakan kembali dalam menerbangkan roket selanjutnya. 

Namun, hal tersebut tidak dapat diterapkan ketika membesarkan anak. Karena setiap anak berbeda, maka kamu harus menerapkan solusi dan pendekatan yang berbeda bagi masing-masing anak. Sama seperti masalah kompleks. Karena masalah yang kita hadapi dari hari ke hari rumit dan bervariasi, maka kita harus menggunakan metode yang berbeda setiap bertemu masalah baru.

Definisi complex problem solving yang dirumuskan oleh Dörner dan Funke (2017) dapat memberikan cakupan sepenuhnya mengenai konsep ini:

Complex problem solving merupakan kumpulan proses dan aktivitas psikologis yang melibatkan regulasi diri, yang diperlukan dalam lingkungan yang dinamis untuk mencapai tujuan yang tidak sepenuhnya jelas dan tidak dapat dicapai oleh tindakan rutin.”

Dengan merujuk pada definisi tersebut, walaupun complex problem solving kita terapkan setiap harinya, hal tersebut bukan semata-mata kegiatan, namun juga keterampilan. Complex problem solving memang terdiri dari pengumpulan, pengolahan, dan analisis informasi. Tetapi, kita yang melakukannya juga dituntut untuk memiliki kemampuan regulasi diri, kreativitas, pikiran yang terbuka, dan bekerja sama dengan orang lain. Maka, sebaiknya kita melatih diri agar mampu menghadapi masalah-masalah yang unik, dalam konteks yang unik juga.

Referensi

Desjardins, J. (2018, July 2). 10 skills you’ll need to survive the rise of automation. World Economic Forum. https://www.weforum.org/agenda/2018/07/the-skills-needed-to-survive-the-robot-invasion-of-the-workplace

Dörner, D., & Funke, J. (2017). Complex problem solving: what it is and what it is not. Frontiers in psychology, 8, 1153. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2017.01153

Glouberman, S., & Zimmerman, B. (2002). Complicated and complex systems: what would successful reform of Medicare look like?. Romanow Papers, 2, 21-53.

Gray, A. (2016, January 19). The 10 skills you need to thrive in the Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum. https://www.weforum.org/agenda/2016/01/the-10-skills-you-need-to-thrive-in-the-fourth-industrial-revolution/

Kruchoski, P. (2016, August 19). 10 skills you need to thrive tomorrow – and the universities that will help you get them. World Economic Forum. https://www.weforum.org/agenda/2016/08/10-skills-you-need-to-thrive-tomorrow-and-the-universities-that-will-help-you-get-them/

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.ID 2019 - 2020