InspirasiCerita Peneliti Tenun, Masa Depan Kain Nusantara

Redaksi Pemimpin.IDDecember 7, 2019222
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/12/Kain-Tenun-4-1280x853.jpeg

Kain tenun mempunyai cerita yang tak pernah habis. Cerita itu tidak berhenti hanya pada sebuah filosofi yang bersifat humanis, tetapi menyeluruh, hingga menyentuh semua sendi kehidupan, tak terkecuali ekonomi.

Sayangnya, filosofi yang sudah tercipta dengan elok tersebut harus dihadapkan pada fakta yang tidak menyenangkan. Itulah yang didapat oleh sosok Qadr Jatsiah Elmir, peneliti kain tenun saat berkeliling ke beberapa daerah Indonesia dan menulis sebuah buku berjudul Tenun Berkisah.

Buku Tenun Berkisah karangan JetC Elmir dan Tatty Elmir.

Menurutnya, banyak masyarakat kita yang sangat menggemari kain tenun tradisional, namun mereka tidak tahu bagaimana membedakannya dengan kain tenun imitasi. Dalam bukunya, perempuan yang akrab dipanggil JetC ini menulis “So Sad, but So True”. Ungkapan itu sebenarnya ingin menggambarkan bagaimana “kain tenun tradisional” diproduksi oleh pabrikan tekstil dengan cara printing.

Sebagaimana diketahui, tenun tradisional yang diproduksi langsung di desa-desa penenun memiliki harga yang relatif mahal. Maklum, proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama dan setiap detailnya menggunakan bahan alami, seperti akar-akaran. Kain – kain ini punya banyak peminat, baik dari pencinta fashion maupun kolektor, tapi belum tentu harganya cocok di kantong mereka.

Melihat potensi pasar tersebut, pelaku usaha tekstil tak urung untuk menjajal peluang. Mereka mencoba “melayani” keinginan pasar dengan membuat produk imitasi kain tenun, sehingga harga jualnya pun jauh lebih murah.

Praktik bisnis tenun saat ini bagi JetC cukup mengkhawatirkan. Mengapa demikian? Itu karena para pelaku usaha akan terbiasa dengan cara berpikir “yang penting mudah dan murah”. Kekhawatiran itu, cepat atau lambat bisa membuat tenun tradisional menemui masa kepunahannya. Padahal, warisan leluhur Indonesia semuanya tercermin dalam setiap olahan dan goresan yang tergambar di kain itu.

Melihat fenomena yang bisa dibilang bakal kurang menguntungkan para pengrajin tenun tradisional, perempuan yang 50% berdarah Minang ini lantas memulai perjalanannya ke tiga daerah Indonesia, yakni Sumba, Timor, dan Bali. Dia melakukan penelitian sekaligus belajar mengenal kebudayaan yang ada di tiap-tiap daerah yang dikunjunginya itu.

Penulis mewawancarai keluarga Bapa Raja Boti, suku asli Timor Tengah Selatan yang masih menganut kepercayaan aslinya.

Pengalaman menjalani interaksi dengan para penenun di sana, semakin memperkaya sudut pandang perempuan kelahiran 1986 ini. JetC bisa merasakan bagaimana alam menjadi kawan hidup masyarakat di sana. Lihat saja ragam kain tenun yang dibuat dengan hati berbalut hasil alam, itu semua sangat mewakili peradaban hidup masyarakat di sana.

JetC juga terinspirasi tentang hidup dalam keberagaman, ketika dia yang adalah seorang Muslim disambut hangat oleh masyarakat di sana. Inilah yang kemudian membuat JetC sangat gigih untuk memberikan edukasi tentang kain tenun kepada masyarakat Indonesia.

“Kalau teman-teman ke daerah dan melihat penenun di sana, teman-teman enggak akan sampai hati beli yang printing. Kalau kita pakai yang printing, kita memperkaya pabrik yang dimiliki orang kaya,” ungkap JetC.

Semangat untuk terus mengedukasi selalu membara dalam diri JetC. Dia seperti tak pernah lelah untuk memberi masukan kepada pelanggan atau penjual kain tenun yang tidak memahami filosofi kain sehingga mengambil jalan pintas agar bisa mendapat kain dengan harga murah. Di balik perjuangannya itu, JetC menyimpan harap agar para penenun bisa selalu menjaga kepercayaan dirinya untuk terus memproduksi kain tenun.

Manakah tenun yang asli tradisional adati dari NTT, tenun replika komoditi dari ATBM Jepara, dan tekstil printing pabrikan yang bermotif tenun?

Budaya yang sejatinya memiliki kearifan lokal untuk terus dijaga, kini tampaknya sudah menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Bagi JetC, persoalan itu bisa menjadi pelajaran untuk semua pihak, baik untuk penenun tradisional, maupun mereka yang mengimitasi motif kain, juga pemerintah.

Hal terpenting yang harus terus diperjuangkan adalah eksistensi dan kesejahteraan penenun tradisional. Lewat tangan-tangan merekalah, dirajutlah simbol kebudayaan dari para leluhur, sehingga tidak ada alasan untuk membiarkan penenun tradisional kehilangan semangatnya untuk terus menenun, hanya karena sudah banyak tenun imitasi yang beredar di pasaran.

Seorang Ibu menenun di pekarangan rumahnya di Kampung Tarung, Sumba Barat, NTT.

“Sebenarnya penenun tradisional bisa kerja sama dengan mereka yang mengembangkan tenun dengan cara yang inovatif. Bisa jadi, orang-orang di daerah belum kepikiran buat menjalin kerja sama, pun sebaliknya. Mereka bisa berkolaborasi,”ungkap JetC.

Pada akhirnya kemampuan seorang untuk bisa menggerakan sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Sosok JetC memberikan contoh pada kita tentang bagaimana dia melihat sebuah fenomena. Dia memutuskan untuk ambil bagian di dalamnya dengan melakukan penelitian dan mempelajari secara langsung sesuatu yang saat ini sedang jadi fokus perjuangannya.

Tak berhenti di situ, JetC menyebarluaskan apa yang didapatnya dengan menulis dan berbagi pada mereka yang punya perhatian yang sama terhadap kain tenun Indonesia. Harapannya, dengan berbagi, ada pihak-pihak yang juga tergerak untuk berkolaborasi dalam mewujudkan hal – hal baik.

Baca Juga : Ini Alasan Mengapa Pemimpin Harus Menulis

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

info@pemimpin.id

Pemimpin.ID 2019