HeadlineLeadership ReviewBerganti Partner Kerja adalah Kesempatan!

Avatar Pemimpin.IDJuly 7, 2021211
pexels-alexander-suhorucov-6457562-01

Oleh: Fauziah SPR

 

ABSTRAK. Fenomena berganti partner kerja memiliki sisi baik dan buruk. Sisi baiknya, kita bisa belajar menghadapi ragam karakteristik orang lain, berbagi hal baru, dan belajar untuk lebih adaptif. Sisi buruknya, kita membutuhkan effort untuk kembali membangun hubungan dari awal dengan partner baru, lalu pembelajaran yang belum tuntas dengan partner yang lama, dan berganti partner juga dapat memperlambat pekerjaan. Namun, kita bisa selalu memilih untuk melihat hal ini sebagai masalah, atau justru sebagai sebuah kesempatan.

 

Berganti partner kerja sebenarnya bukan hal yang baru. Orang-orang selalu datang silih berganti. Kemarin bekerja dengan A, sekarang bekerja dengan B. Kemarin bos kita itu C, sekarang berganti jadi D. Pergantian personil di tempat kerja menjadi hal yang lumrah dan bukan menjadi hal yang terlalu dipikirkan oleh kebanyakan orang.

Namun, fenomena ini sebenarnya bisa menjadi suatu kesempatan yang baik bagi kita. Menurut Pandu Kartika Putra, Digital Government Consultant, pergantian partner kerja adalah tiket bagi kita untuk memulai sesuatu yang baru, sesuatu yang berbeda, dan hal itu mahal harganya.

 

Kelebihan Berganti Partner Kerja

Menurut Pandu, setidaknya ada 3 kelebihan atau manfaat yang bisa kita dapatkan dengan memiliki partner kerja yang baru.

  1. Belajar Menghadapi Orang yang Berbeda
    Kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang persis sama di dunia ini. Semua orang memiliki karakteristiknya masing-masing. Ada yang pendiam, ada yang ramah dan mudah bergaul, serta ada juga yang sangat sensitif.

    Berganti partner berarti kita akan mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana cara menghadapi orang dengan karakteristik yang berbeda. Semakin beragam orang yang kita temui, semakin kaya pengetahuan kita mengenai cara berhadapan dengan orang lain. Bagi Pandu sendiri, fenomena ini membantunya untuk lebih mature dalam menghadapi ragam karakteristik orang lain.

  2. Mendapat dan Berbagi Pengetahuan Baru
    Partner yang baru bisa saja datang dari divisi atau perusahaan lain. Perbedaan pengalaman yang dimiliki membuat kita bisa saling berbagi pengetahuan satu sama lain. Mungkin ada hal-hal hebat yang partner kita alami, dan belum pernah kita tahu sebelumnya. Pengetahuan baru ini dapat menjadi input positif bagi diri kita.

  3. Belajar Adaptif
    Lewat fenomena berganti partner ini, kita bisa belajar untuk adaptif. Tidak hanya bagaimana cara menghadapi partner yang baru, namun juga bagaimana kita bekerja optimal meski dengan partner yang belum terlalu dikenal.

 

Kekurangan Berganti Partner Kerja

Di samping itu, ada beberapa kekurangan juga dari berganti partner kerja ini, yaitu:

  1. Effort Membangun Hubungan dari Awal
    Memiliki partner baru berarti memulai semua hal dari awal. Mulai berkenalan lagi, mulai beradaptasi lagi, dan lain sebagainya. Hal ini sejalan dengan teori tahapan pembentukan tim oleh Bruce Tuckman, seorang peneliti psikologis asal Amerika.

    Menurut Bruce Tuckman, ada beberapa tahapan dalam pembentukan tim, yaitu:

    Sumber: Teamhood.com

    Forming adalah proses awal pembentukan di mana anggota tim biasanya masih mencari aman (mengobrol topik-topik yang tidak terlalu berat). Lalu, proses storming terjadi ketika anggota tim mulai mengalami konflik seperti berselisih paham. Ketika proses ini selesai, maka akan lanjut ke tahapan selanjutnya yaitu norming, di mana anggota tim akhirnya bisa beradaptasi dengan karakteristik masing-masing dan di tahap performing, anggota tim bisa bekerja bersama secara optimal. Hingga akhirnya di tahap adjourning saat anggota tim mengalami perpisahan.

  2. Belum Selesai Belajar
    Hal ini terjadi ketika kita tiba-tiba dipindahtugaskan ke divisi lain, ketika proses pembelajaran kita di divisi sebelumnya belum rampung. Pergantian partner dan tempat bekerja dalam kasus ini membuat pengetahuan yang kita dapatkan menjadi setengah-setengah.
  3. Bisa Memperlambat Pekerjaan
    Sejalan dengan tahapan pembentukan tim dari Bruce Tuckman, dibutuhkan proses sampai akhirnya tim dapat bekerja secara optimal. Apalagi jika partner kerja yang baru benar-benar pemula, kita perlu mengajarkan beberapa hal dulu sebelum akhirnya bisa dilepas.

 

Bagaimana Cara Menyikapinya

Selalu ada dua sisi dalam segala sesuatu. Sama halnya dengan pergantian partner, Pandu menyebutkan ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita bisa selalu memilih untuk melihat sisi baik, atau justru sisi buruknya. Namun, agar fenomena ini dapat kita maksimalkan dengan baik, kita harus melihatnya sebagai sebuah kesempatan, bukan sebuah masalah.

Berganti partner kerja berarti kesempatan untuk belajar hal baru. Hal ini juga menjadi kesempatan bagi kita untuk memulai sesuatu yang baru. Jika mungkin dengan partner sebelumnya kita memiliki beberapa konflik yang kurang mengenakkan, kita bisa memulai dari awal, membangun hubungan yang sehat dengan partner yang baru.

 

“Kita tidak belajar dari pengalaman, kita belajar dari refleksi kita terhadap pengalaman.”

– John Dewey, Filsuf Amerika –

 

Fenomena berganti partner kerja bisa dibilang biasa saja. Namun jika kita merefleksikannya, ada banyak hal yang bisa kita ambil dari fenomena ini. Jadi, jangan lewatkan kesempatan emas untuk belajar hal baru dan memulai sesuatu yang baru, dengan partner kerja yang baru.

 

Referensi

Schermerhorn, J. (2013). Management (12th ed). John Wiley & Sons.

 

Photo by: Alexander Suhorucov

Avatar

Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.