https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2020/10/mark-konig-gKHWsWWOvUE-unsplash-1280x853.jpg

Oleh: Fathan Asaduddin Sembiring S.Sos, M.B.A.

Nenek moyangku seorang pelaut sesungguhnya merupakan frasa yang sering kita dengungkan dan dengar. Namun, disadari atau tidak, lagu tersebut tinggal lah dengungan yang resonansi nya semakin lama semakin tak terdengar. Kenyataan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan ratusan ribu pulau, dan panjang nya garis pantai, tidak serta-merta menjadikan rakyat Indonesia familiar dengan laut nya sendiri.

Mungkin kalau kita lakukan survey kepada 100 orang pemuda, baik itu milenial maupun yang lebih muda, mungkin akan mengesankan laut sebagai tujuan wisata saja. Terutama untuk responden yang tinggal jauh dari laut. Padahal fungsi dan manfaat laut, terutama yang Indonesia miliki sangatlah besar tidak hanya untuk urusan perut, tetapi juga energi, transportasi, logistik, pertahanan negara, dan lain sebagainya. Namun, kenyataan bahwa sebagian besar dari populasi Indonesia kurang familiar dengan laut, hal ini menjadi sesuatu yang miris dan kita semua mafhum dengan itu. Jangan-jangan memang karena selama ini tidak ada atau kurang sekali instrumen pendidikan dan pembelajaran yang menjadikan laut sebagai topik yang signifikan.

Belum lagi kenyataan pahit dewasa ini bahwa laut dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, karena bencana alam, banyaknya hewan-hewan laut yang kita tidak familiar; ataupun laut adalah tong sampah besar yang itupun datang dari sikap acuh sebagian besar masyarakat dalam melihat laut. Jadilah masyarakat modern Indonesia semakin asing terhadap laut.

Kurangnya familiarisasi sebagian besar masyarakat terhadap laut, menjadikan hal-hal yang positif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam bidang, menjadi kurang tergali dan diberdayakan. Jangankan untuk mereka (termasuk penulis) yang tinggal jauh dari laut, untuk masyarakat pesisir pun edukasi dan kesadaran akan penjagaan kebersihan lingkungan laut juga dirasa masih kurang. Penulis sendiri juga pernah berkesempatan mengunjungi Kecamatan Molu Maru di Provinsi Maluku Tenggara Barat. Lokasi yang indah dan tidak banyak penduduk pun masih bisa ditemukan banyaknya sampah yang mengambang di sepanjang pesisir laut. Banyak sekali usaha yang harus dilakukan berkaitan dengan penyadaran dan pendidikan ini.

Padahal, kalau dilihat dari komposisinya, nelayan di Indonesia ada kurang lebih 3 juta jiwa, namun karena keacuhan sebagian besar masyarakat beserta para pemangku kepentingan, ironi nya para nelayan di Indonesia menyumbang 25% dari total masyarakat miskin di Indonesia. Padahal kalau kita berkaca dari negara-negara lain, pengelolaan laut untuk banyak sekali fungsi dan manfaat, bukanlah sesuatu yang mustahil.

Seperti misalnya Norwegia yang dapat dikatakan berhasil dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Siapa yang tidak mengenal salmon asal Norwegia yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia. Kalau tidak ada pengelolaan yang berkelanjutan, apa mungkin salmon asal Norwegia akan terus ada di pasaran global. Kendati demikian Indonesia yang sesungguhnya memiliki luasan wilayah 6 kali lebih besar dari Norwegia harus bisa belajar banyak untuk hal ini.

Atau misalkan negara-negara seperti Perancis, Jepang, atau Korea Selatan yang memanfaatkan air laut dalam (kedalaman 2.000 meter) untuk produk kecantikan. Bahkan Indonesia sendiri mengimpor 1.294 ton air laut dalam dari Perancis, ini pun data 2017. Tentu jumlah ini meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini juga dimanfaatkan oleh negara-negara lain yang telah meriset manfaat dari air laut dalam untuk digunakan dalam produk kecantikan. Perkara air laut dalam yang terjaga kemurniannya, sehingga memiliki kandungan mineral yang berkualitas tinggi, merupakan hasil dari upaya yang negara-negara tersebut sudah lakukan sejak sekian lama. 

Laut memiliki gelombang yang bahkan sudah sejak tahun 1799 dilakukan penelitiannya! Secara alamiah laut memiliki gelombang karena efek gravitasi, angin, dan penyebab alamiah lainnya sesungguhnya dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik yang sangat ramah lingkungan. Negara-negara yang sudah memanfaatkan tenaga ombak laut pun juga tidak sedikit, seperti Inggris, Portugal, Amerika Serikat, Australia, dan sebagainya.

Atau misalnya bisa dilihat Cina yang telah menerapkan prinsip tol laut sejak bahkan ketika dinasti-dinasti masih eksis. Dengan Jalur Perdagangan Maritimnya terbukti telah membuat Cina memanfaatkan betul fungsi dan manfaat laut untuk transportasi dan logistik. Sehingga produk-produk yang banyak mereka buat, tidak terlalu lama menumpuk di gudang pabrik, dan sesegera mungkin dapat terserap dan terekspor ke negara-negara tujuan. Cina juga dengan apiknya menjadikan The Maritime Silk Road atau Jalur Sutera Laut sebagai bagian dari konsep besar dari One Belt One Road yang diperkenalkan oleh Xi Jinping ketika berkunjung ke Indonesia pada tahun 2013 lalu

Penulis memang sama sekali tidak memiliki latar belakang studi kemaritiman atau sejenisnya. Namun gagasan ini sudah ada di dalam benak penulis cukup lama. Dengan dulu ada konsep Blue Economy sebagai penegas dari Green Economy, yang walaupun ada 2 versi, namun Presiden SBY menggunakan gagasan Blue Economy sebagai bagian dari upaya maksimalisasi fungsi dan manfaat dari laut itu sendiri. Namun ketika Presiden berganti, maka Blue Economy itu juga menguap di tengah jalan. Di satu sisi Presiden Jokowi mengungkapkan perihal Tol Laut, namun mungkin karena rumit nya pengelolaan pemerintahan baik itu Pusat dan Daerah di Indonesia, maka rencana kerja yang sejatinya sudah dicanangkan sejak tahun 2015 juga pergi entah kemana.

Dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan gagasan Bahtera Ilmu. Barang ini bukanlah merupakan barang baru. Dan program-program seperti Kapal Pemuda Nusantara juga sudah lama dilaksanakan oleh Kemenpora, namun penulis rasa itu tidaklah cukup. Tidak cukup untuk menjadi penyadaran di benak masyarakat Indonesia bahwa laut itu adalah modal besar Indonesia guna mencapai kemajuan-kemajuan. 

Bahtera Ilmu sendiri adalah program pembelajaran (KBM) yang berada di laut, sambil berlayar. Mungkin hal ini akan terdengar sangat membutuhkan biaya, padahal kita tau ada program Indonesia Mengajar yang dulunya mungkin terdengar gila untuk dilaksanakan, dan pada akhirnya kita sendiri bisa merasakan manfaatnya, khususnya untuk para siswa di berbagai penjuru Indonesia.

Program Bahtera Ilmu ini tidaklah harus sophisticated dengan pembelian aset, tidak. Hal ini bisa dilaksanakan secara paralel, bekerja sama dengan berbagai macam pemangku kepentingan, dan yang terpenting program ini adalah ide, gagasan, bukanlah produk fisik semata.

Contoh saja, dari mana mendapatkan kapal laut sebanyak itu? Penulis sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang tidak menyetujui kegiatan peledakan kapal-kapal asing ilegal yang diamankan oleh aparat yang berwenang. Walaupun sudah lewat masanya, namun kapal-kapal ilegal pasti akan terus terjaring dalam berbagai macam operasi kedaulatan. Dengan memanfaatkan, salah satunya, kapal-kapal ilegal yang terjaring tersebut, maka dana yang ada bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional seperti BBM kapal, konsumsi, asuransi, dan lain sebagainya.

Pihak TNI AL, Polisi Air, dan Bakamla contohnya bisa juga berperan aktif untuk sekaligus mendemonstrasikan hal-hal yang berkenaan dengan tupoksi masing-masing. Sehingga para peserta program mendapatkan informasi dari sumber primer. Di situ para aparat juga bisa bercerita banyak soal kedaulatan, batas laut, ZEE, nasionalisme, pertahanan dan keamanan negara di laut, dan lain sebagainya. Betapa banyak pihak swasta yang dapat urun-rembug dalam penyediaan kebutuhan operasional sebagai bagian dari kontribusi sosial perusahaan.

Coba sekarang kita bayangkan berapa banyak, khususnya pemuda-pemudi Indonesia, yang belum berkesempatan untuk keluar dari pulau tempat ia tinggal? Berapa banyak siswa metropolitan yang mengetahui Pulau Nias hanya dari Youtube saja? Atau berapa banyak rekan-rekan pelajar dari Timur yang ingin sekali merasakan muhibah bertemu dengan rekan-rekan nya yang lain di sebelah Barat Indonesia? 

Betapa banyak pelajar baik itu yang masih bersekolah maupun sudah di jenjang perguruan tinggi yang mungkin tidak pernah tau rasanya berlayar dari satu lokasi ke lokasi lain, dengan suasana pembelajaran. Bahtera Ilmu memungkinkan para peserta untuk bisa mengenal Indonesia secara lebih mendalam. Bahtera Ilmu juga memungkinkan para peserta untuk bisa mengenal satu sama lain. Keragaman Indonesia bukanlah sebuah komoditi konten digital yang hanya bisa dilihat pada layar-layar gawai, namun harus ditunjukkan, disentuh, dan dirasakan.

Sedangkan turunannya, juga dapat dilakukan secara komersil, seperti untuk pariwisata, yang akan berganti nama menjadi Bahtera Wisata, atau peruntukan non komersil seperti berdiplomasi dengan Bahtera Perundingan. Dengan menjadikan laut sebagai sarana dan prasarana berbagai macam hal, banyak sekali bentuk kolaborasi yang juga bisa dilakukan dengan pihak-pihak investor baik dalam maupun mancanegara.

Apabila melihat program ini sebagai konten, banyak sekali ide yang dapat digarap, tidak hanya mengenai kelestarian hutan bakau, telur penyu, terumbu karang, tapi hal-hal lain yang telah terbukti sukses dikerjakan di banyak negara seperti yang telah penulis sebutkan di bagian awal. Bisa saja Bahtera Ilmu ini sebagai ajang pengarusutamaan, namun kalaupun tidak, arahnya sudah benar.

Sehingga, ketika kegiatan ini dapat dilakukan guna menanamkan pemikiran yang familiar terhadap laut, barulah dengan begitu generasi yang lebih muda akan sadar dan merasakan secara riil fungsi dan manfaat dari laut yang masif tersedia di Indonesia. Mereka tidak perlu diajari lagi soal ekspor komoditas laut. Tidak perlu lagi dijelaskan apa itu ALKI I, ALKI II, ALKI III, dan seterusnya. Tidak perlu lagi dijabarkan konsep pemanfaatan gelombang laut sebagai sumber energi terbarukan. Bikin Atlantis zaman now juga bisa kalau mau!

Semoga bermanfaat, wassalamualaikum wr wb.

 

Referensi :
https://www.mylifeelsewhere.com/country-size-comparison/norway/indonesia

https://www.cnbcindonesia.com/news/20190219120927-4-56347/ternyata-indonesia-paling-banyak-mengimpor-air-dari-prancis

https://www.hindawi.com/journals/ecam/2016/6520475/

https://en.wikipedia.org/wiki/Wave_power

https://en.wikipedia.org/wiki/Belt_and_Road_Initiative

https://finance.detik.com/infrastruktur/d-4936600/lama-tak-terdengar-apa-kabar-program-tol-laut-jokowi

https://tirto.id/pemerintah-targetkan-indonesia-miliki-1-juta-nelayan-berdaulat-dlwg

Redaksi Pemimpin.ID

Lokasi

Deep Space

Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Rumah Wijaya

Jl. Wijaya V, No. 6, Melawai, Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

Pemimpin.ID 2019 - 2020