JurnalB.J. Habibie: Sosok Inklusif di Antara Pujian dan Kritik

Redaksi Pemimpin.IDJune 23, 2020190

Foto: Detik Finance

Indonesia pernah memiliki putera bangsa yang cukup dikenal dunia; Bacharuddin Jusuf Habibie atau biasa dikenal B.J. Habibie. Pria kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936 merupakan sosok yang berpemikiran inklusif dalam memajukan Indonesia. Inklusivitas beliau dalam berpikir terlihat dari bagaimana beliau tidak ingin ada segregasi pelayanan antar ras, membangun infrastruktur di bidang aviasi untuk menjangkau daerah terpelosok, dan memenuhi hak berbangsa bagi siapapun tanpa terkecuali. Meskipun kritik turut beliau terima, namun beliau tetap dapat menjadi teladan bagi setiap pemimpin.

Sejak muda Habibie begitu mencintai ilmu. Karena kecintaannya tersebut beliau telah menghasilkan karya yang diakui dunia khususnya pada bidang aviasi (ilmu tentang penerbangan). Sebut saja seperti Crack Propagation Theory. Berkat teori yang diciptakannya angka kecelakaan pesawat yang disebabkan karena perambatan retak pada struktur pesawat menurun. Teori ini sangat berdampak  bagi dunia. Karena karyanya tersebut Habibie diikutsertakan dalam proses pembuatan pesawat Airbus A-300B, pesawat yang hendak diciptakan untuk menyaingi Boeing.

Pesawat sebagai ‘penyambung’ kepulauan di Indonesia

Habibie menyadari bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia perlu memiliki pesawat terbang buatan sendiri. Maka dari itu pada tahun 2013 Habibie menginisiasi pembuatan pesawat R80. Pesawat ini dibuat oleh PT. Ragio Aviasi Industri (RAI), sebuah perusahan milik Habibie. Tujuan diciptakannya pesawat ini adalah untuk melayani penerbangan ke pulau-pulau kecil yang selama ini belum dapat dilayani oleh maskapai penerbangan. Akhirnya pada tahun 2017 gagasan ini dimasukan ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Jika gagasan tersebut terlaksana masyarakat Indonesia akan dapat menjangkau pelosok. Gagasan pembangunan teknologi ini cukup inklusif apabila dilihat dari tujuannya.

Namun, pada tahun 2020 mimpi Indonesia untuk memiliki pesawat karya anak bangsa menghadapi rintangan. Pasalnya pemerintah pusat telah menghapus R80 dari PSN dan digantikan dengan pengembangan drone. Menurut RAI, pemerintah perlu mempertahankan dukungannya terhadap pengembangan R80. RAI merupakan proyek yang masuk dalam Roadmap Industri Penerbangan Nasional. Komitmen pemerintah tentunya sangat berarti demi mewujudkan tujuan pembuatan pesawat R80. Mengingat selama fase design konsep, R80 dibiayai oleh Habibie dan pemegang saham RAI lainnya.

Penghapusan istilah pribumi dan nonpribumi

Pada tahun 1998 Habibie pernah mengeluarkan instruksi kepada seluruh pejabat publik untuk menghapus istilah segregatif; pribumi dan nonpribumi. Habibie menggulirkan wacana tersebut untuk mengkonstruksi sebuah nilai yang lebih inklusif bagi masyarakat. Nilai tersebut terinstitusionalisasi secara legal-formal ke dalam Inpres No. 26 Tahun 1998. Hal yang dilakukan oleh Habibie merupakan salah satu upaya untuk menyelesaikan konflik rasial pribumi dan nonpribumi.

Awal mula konflik rasial pribumi dan nonpribumi terjadi saat era Orde Baru. Sentimen rasial pribumi dan nonpribumi yang dimaksud tepatnya terjadi antara mereka yang beretnis Tionghoa (nonpribumi) dengan mereka yang beretnis non-Tionghoa (pribumi). Penyematan identitas dengan pengistilahan tersebut akhirnya mengakibatkan segregasi berkepanjangan. Hal ini semakin diperkeruh mengingat segelintir konglomerat adalah mereka yang beretnis Tionghoa dan masyarakat yang mengalami kemiskinan adalah mereka yang beretnis non-Tionghoa. Dengan demikian, tidak hanya sentimen rasial yang menjadi sumber konflik namun gap ekonomi turut menjadi sumber konflik. Berdasarkan hal tersebut tentunya instruksi presiden (inpres) yang dikeluarkan oleh Habibie patut diapresiasi. Meskipun inpres tersebut belum cukup untuk menuntaskan kasus pemerkosaan terhadap perempuan beretnis Tionghoa pada Mei 1998, misalnya.

Lepasnya Timor Timur dari Indonesia

Kita sebagai bangsa Indonesia pernah memiliki sejarah terlepasnya Timor Timur dari Republik Indonesia. Timor Timur menuntut untuk melepaskan diri dari Indonesia saat Habibie menjadi Presiden Republik Indonesia. Tentu tuntutan tersebut menjadi rintangan yang sulit. Mengingat Indonesia baru memasuki era Reformasi setelah runtuhnya era Orde Baru.

Timor Timur bukan tanpa alasan memisahkan diri dengan Indonesia. Indonesia melalui Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pernah melakukan invasi militer ke Timor Timur yang dikenal dengan Operasi Seroja. Invasi ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran pemerintah Indonesia akan potensi Timor Timur menjadi wilayah komunis. Kekhawatiran tersebut muncul karena Partai Frente Revolucionaria de Timor-Leste Independente (Fretilin), sebagai partai berhaluan komunisme, terus menerus berkuasa di Timor Timur. Operasi Seroja menyebabkan banyaknya korban sipil yang berjatuhan.

Pada akhirnya invasi tersebut menghasilkan keputusan bergabungnya Timor Timur  menjadi bagian dari wilayah Republik Indonesia. Namun, sejak 1980 dukungan internasional kepada Timor Timur terus mengalir. Terlebih selanjutnya pada tahun 1991 terdapat kejadian tragis yaitu pembantaian Santa Cruz. Hal ini semakin menjadikan hubungan Timor Timur dengan Indonesia sebagai sorotan dunia.

Habibie menyikapi permasalahan tersebut dengan mengambil sikap menolak standar ganda perihal kebebasan berbangsa bernegara yang diamanatkan UUD 1945. Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa “kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa”. Senada dengan pernyataan tersebut, sebagaimana dilansir oleh IDN Times, Habibie menyampaikan “Presiden tidak dibenarkan berperilaku double standard dalam kehidupan sehari-hari dan pengambilan kebijakan. Yang menjadi perhatian saya adalah kepentingan rakyat Indonesia secara keseluruhan, termasuk rakyat TimTim (Timor Timur)”. Habibie menambahkan, “Keputusan saya untuk menyelesaikan persoalan agar rakyat TimTim benar-benar dapat menikmati nilai-nilai HAM bersama seluruh rakyat Indonesia, tanpa menerapkan ‘tolok ukur ganda’, dalam menentukan nasib dan masa depan demi kepentingan seluruh bangsa Indonesia termasuk rakyat TimTim.”

Keputusan yang diambil oleh Habibie untuk menerima kemerdekaan Timor Timur tentunya menuai kritik dan pujian. Di lain hal, apapun itu B.J. Habibie adalah sosok yang patut diteladani atas segala perjuangan hidupnya. Meninggalnya Habibie menjadi duka mendalam bagi Timor Leste, terutama presiden pertamanya Xanana Gusmao.  Bahkan menjelang meninggalnya Habibie, pemerintahan Timor Leste  sampai meresmikan jembatan dan taman di Dili dengan nama B.J. Habibie. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Habibie. Begitulah Habibie, sosok teladan yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Sosok inklusif yang menetap di hati orang-orang yang mengaguminya karena perjuangannya demi peradaban yang lebih maju dan penuh kemanusiaan.

Foto: Liputan6

Redaksi Pemimpin.ID

Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

Pemimpin.ID 2019 - 2020