ArtikelDi Dalam Diri yang Hebat, Terdapat Jiwa yang Tak Terawat

Avatar Ridwan Ardian WijayaNovember 16, 202197
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/11/Jiwa-tak-terawat-1280x670.png

Tulisan ini disadur dari blog Naufal Mohammad Hogantara (Member Pemimpin.id Associate)

Kalau boleh menebak, saya kira orang lain menganggap diri saya sebagai orang yang bersahabat. Atau malah hebat. Meski torehan prestasi saya tak banyak-banyak amat, kesan positif tadi bisa saja muncul berkat pembawaan saya yang supel dan lucu. Tebakan saya pun bisa bilang bahwa banyak orang menilai saya pandai. Namun, saya bisa beritahu kamu bahwa itu hanya kulit terluar yang tak menggambarkan apapun yang ada di dalamnya.

LET ME TELL YOU A SECRET

Saya akan membeberkan satu rahasia yang tak pernah saya beritahu siapa-siapa sebelumnya: saya benci orang baru. Apapun konteksnya. Mau itu saat pertama kali bertemu teman sekolah, rekan kerja, atau sesama peserta pelatihan. Kalau bisa, saya akan selalu lebih memilih mendekam dalam kamar ketimbang harus berjumpa dengan orang baru untuk pertama kali. Kehadiran orang baru terasa amat mencekam bagi saya tanpa alasan yang jelas. Pada setiap malam hari sebelum berkenalan dengan orang baru, semuanya merupakan malam-malam terburuk. Berdebar-debar, tak bisa tidur, dan merangkai jutaan alasan untuk izin tak hadir bertemu mereka. Saya hampir selalu berharap pertemuannya batal.

Tentu saja yang menginginkan itu adalah sisi irasional saya. Secara sadar, saya tahu betul bahwa pikiran-pikiran semacam itu tidak baik. Sebenarnya apa sih yang saya cemaskan ketika bertemu dengan orang baru?

Sulit untuk menunjuk langsung apa sebabnya, tapi saya punya dugaan. Sepertinya, itu adalah wujud ketidaknyamanan saya dalam berinteraksi sosial. Biasanya, pertemuan dengan orang baru terjadi dalam keramaian. Ekspektasi saya dalam keramaian semacam ini adalah sekadar menjadi kerikil. Saya ada, orang lain pun bisa melihat, tapi tidak cukup penting untuk diindahkan. Saya selalu merasa lebih menikmati peran pengamat ketimbang terjun langsung dalam interaksi bersama orang-orang.

Jangan salah paham, saya bukannya tidak tertarik untuk mengenal orang lain. Malah saya percaya bahwa berjejaring dengan banyak orang akan membawa segudang peluang untuk saya berkembang. Satu hal yang jadi masalah, walau demikian, adalah menginisiasi perkenalannya. Ini tampaknya jadi beban utama saya. Setiap kali masuk dalam lingkaran pergaulan baru, saya “terpaksa” menanyakan nama-nama, menerka sifat mereka, dan mencari titik temu untuk menjaga obrolan tetap menyenangkan. Bagi saya, hal-hal ini sama sekali tidak mudah.

Tahu tentang suatu momen ketika dua orang berbincang dan mendadak ada jeda beberapa detik karena masing-masing pihak kehabisan topik? Ah… Entah kenapa momen itu sangat pahit bagi saya. I hate, even despise, that. Rasa-rasanya, mungkin momen itu yang membuat saya menghindar dari bercakap-cakap bersama orang baru. Logikanya kira-kira begini: saya tidak ingin terjebak dalam situasi canggung tersebut, lantas saya takut untuk memulai percakapan dengan siapapun. Tentu saja, nalar ini beroperasi tanpa saya sadari.

Ekspektasi saya dalam keramaian adalah sekadar menjadi kerikil. Saya ada, orang lain pun bisa melihat, tapi tidak cukup penting untuk diindahkan.

Saya khawatir tidak cukup menarik bagi lawan bicara saya. Tidak ada prestasi, pengalaman hidup, atau kepribadian tertentu dari saya yang tampaknya bisa “dijual” kepada orang lain. Keuntungan apa yang bisa mereka peroleh jika mengenal saya? Biasanya, yang terjadi justru saya mengemis perhatian dengan melontarkan lelucon. Jika kamu pernah berinteraksi langsung dengan saya, pasti kebiasaan melawak ini jadi fitur utama yang kamu bisa perhatikan dari saya. Namun, belakangan saya merenung dan menduga. Nyatanya, candaan-candaan yang saya jadikan senjata dalam menjalin hubungan dengan orang lain tak pernah ada sangkut pautnya dengan diri saya pribadi. Mungkinkah melucu adalah cara saya secara tak sadar untuk mencegah orang lain menggali siapa diri saya sesungguhnya?

YOU CANNOT SEE THROUGH ME

Teknik lain yang saya sering gunakan untuk menghindari pembahasan pribadi dalam percakapan dengan orang lain ialah dengan membicarakan keunggulan saya dibanding mereka dan proyek keren apa yang tengah saya garap. Saya tidak bilang bahwa membicarakan keunggulan adalah teknik komunikasi yang buruk, tapi cukup menyebalkan jika terus didengungkan dalam percakapan sehari-hari. Apalagi jika lawan bicaranya sekadar teman main biasa; bukan atasan, klien, atau rekanan profesional lainnya.

Mungkin di titik ini kamu mulai berniat menyambungkan kepingan puzzle yang telah berserakan dari awal curhatan ini, tapi kesulitan. Mari ulas sejenak: pertama, saya cemas menemui orang baru. Kedua, saya merasa tidak punya keistimewaan yang jadi alasan orang lain harus mengenal saya. Ketiga, saya suka membicarakan hal-hal baik tentang diri saya di depan orang lain. Mengapa poin dua dan tiga tampaknya tak selaras?

Bagaimana bisa saya yang tidak merasa istimewa ini malah sering membangga-banggakan diri sendiri?

Kelihatannya itulah justru mekanisme pertahanan yang dilakukan alam bawah sadar saya saat merasa diancam oleh penolakan oleh orang lain. Ada penelitian psikologi yang kurang lebih bisa menjelaskan mekanisme pertahanan ini. Penelitiannya memakai desain eksperimen; kebetulan cukup simpel. Partisipan yang terlibat diminta untuk menulis sebuah esai tentang keterampilan apapun yang mereka anggap kuasai, semisal musik, sepak bola, atau bidang keilmuan tertentu. Mereka juga harus mencantumkan berapa lama mereka telah mempelajarinya dan kapan terakhir kali mereka mempraktikkannya. Setelahnya, mereka ditanya, “Berapa jumlah orang yang Anda harapkan membaca esai ini?”

Hasilnya? Semakin rendah pengalaman seseorang dalam suatu keterampilan yang mereka anggap kuasai, semakin tinggi jumlah orang yang mereka ingin pengaruhi lewat esai yang mereka tulis. Alias, orang akan cenderung lebih sok tahu saat ia sebenarnya tak punya banyak pengalaman.

Peneliti dalam eksperimen tersebut mengaitkan kecenderungan ini kepada sebuah konsep bernama symbolic self-completion. Singkatnya, kesoktahuan yang kita miliki dalam suatu bidang merupakan upaya simbolis kita untuk melengkapi kekurangan diri sendiri. Saya pikir saya memiliki banyak kekurangan yang saya usahakan untuk tutup-tutupi. Maka, wajar bila saya menjadi orang yang sok tahu dan banyak membanggakan diri. Rupanya saya hanya sedang menambal lubang-lubang dalam jiwa saya yang selama ini kurang terawat.

Orang akan cenderung lebih sok tahu saat ia sebenarnya tak punya banyak pengalaman.

LUPA MERAWAT JIWA

Sebelum lulus kuliah, saya selalu memegang asumsi ini dalam kepala:

I am better than anyone else in the room. If I find that they’re better than me at something, there must be anything that I am better at than them. Hingga kini, asumsi tersebut masih tak terdengar salah bagi saya. Namun, yang salah adalah menjadikan asumsi ini sebagai tameng yang “melindungi” saya agar selalu terlihat sempurna. Gara-gara asumsi tersebut, tanpa sadar saya sering sekali melakukan symbolic self-completion. Saya berlagak tahu semua hal, menonjolkan kehebatan, menjadi badut di tengah kerumunan, dan selalu ingin didengar oleh orang lain.

Barangkali, yang terjadi di dalam jiwa saya justru sebaliknya. Saya takut ditolak oleh orang lain. Tentunya, jika saya mempersilakan orang lain untuk menyibak diri saya yang sesungguhnya, lebih besar peluang mereka untuk menolak saya. Kecacatan saya akan terungkap, ketakutan saya akan terjamah, kedunguan saya akan terdeteksi. I don’t want to look stupid nor weak, especially to the most recent people I meet.

Kini, setelah tahu bahwa saya punya kecenderungan untuk menambal jiwa yang selama ini kurang terawat dengan cara menjadi orang yang terlihat hebat, saya berencana untuk belajar. Rasa-rasanya, selama ini saya kurang banyak berinteraksi dengan orang yang betul-betul hebat. (Wajar sih, sebab bertemu dengan orang yang hebat sungguhan tentu akan meruntuhkan kedok saya pribadi yang hanya mengaku hebat). Orang-orang hebat ini bisa siapa saja; peraih banyak prestasi, influencers, pelayan sosial, akademisi, pengusaha, artis, dan sebagainya. Mereka bisa dibilang hebat jika ada karya konkret yang mereka hasilkan untuk berdampak secara sosial. Bayangkan, jika mereka bisa menyejahterakan orang lain, saya sebetulnya lebih penasaran bagaimana cara mereka menyejahterakan diri sendiri.

Maka, saya ingin berinteraksi lebih banyak dengan mereka. Meneladani kebiasaan harian mereka, visi hidup mereka, dan cara mereka merawat jiwa. Apa yang mereka lakukan untuk mengatasi kelemahan mereka? Bagaimana cara mereka mengelola kerentanan jiwa mereka? Apakah mereka pernah cemas, takut, atau ragu? Saya benar-benar tak tahu, tapi sangat bersemangat untuk menggalinya.

Semoga, setelah berbincang dengan orang-orang yang memang hebat, saya bisa berani berkenalan dengan orang baru sebagai diri saya yang sesungguhnya. Bukan Opang Si Gemilang, Opang Si Supel, atau persona buatan lainnya.

Dapatkan E-Book Memimpin oleh Pempimpin Indonesia GRATIS!