GagasanApa Bedanya Potensi dan Passion?

https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2021/02/ian-schneider-TamMbr4okv4-unsplash-1280x854.jpg

Bagi generasi milenial saat ini, kata passion dan potensi bukan suatu hal yang asing. Banyak orang yang menggembar-gemborkan untuk bekerja sesuai dengan passion atau potensi yang dimiliki. Lantas, apa definisi sebenarnya dari kedua hal tersebut? Serta apa yang membedakan antara passion dan potensi di kalangan profesional?

Passion

Menurut salah satu penelitian dari Paul O’Keefe bersama dengan psikolog dari Stanford University Carol Dweck dan Gregory Walton, keyakinan dapat membuat orang berhasil atau gagal dalam mengembangkan minat mereka. Mantra yang diulang-ulang dalam kepala, seperti “find your passion”, ternyata membawa manfaat tersembunyi. Mereka menyiratkan begitu seseorang mengetahui dan meyakini minat mereka akan memudahkan untuk mengejarnya. 

Namun, peneliti menemukan bahwa ketika orang menghadapi tantangan yang tak terhindarkan, pola pikir “find your passion” itu malah membuat orang cenderung menyerah untuk menemukan minat baru. Gagasan “find your passion” malah menyiratkan keterbatasan dalam ruang lingkup eksplorasi seseorang karena minat yang dimiliki seseorang biasanya tidak banyak. Hal tersebut dapat menyebabkan orang mempersempit fokus mereka dan mengabaikan hal lain yang mungkin dapat menjadi potensi yang kuat baginya. 

Pernyataan tersebut selaras dengan pengalaman Coach Alinne Rosida Djumhana (CEO Better & Co. and Garage Analytics Indonesia) yang menceritakan mengenai perjuangannya semasa kuliah dulu, ia bercerita bahwa pada tahun keduanya berkuliah ia merasa kesulitan belajar untuk mempersiapkan ujian, bahkan hingga menangis. Kemudian, ia mengadu ke ayahnya bahwa jurusan elektro ini bukan bagian dari passion-nya. Ayahnya bertanya, “Kenapa?” Alinne lantas mengeluhkan sulitnya belajar demi ujian semester. “Alinne, di mana pun kamu berada kamu akan menghadapi kesulitan, ujian, rintangan. Setiap saat kamu kesulitan melewati itu, kamu akan berpikir kamu ga punya passion di sana, lalu kamu mundur dan menggantinya dengan bidang lain. Lalu bertemu rintangan, lalu kamu berpikir kamu ga bisa melewatinya karena bukan passion,” jawab ayahnya.

Sementara, menurut Mirza Pahlevi (Co-Founder Indonesia Center of Technology Empowerment), “Passion merupakan sesuatu yang dapat membuat kita bekerja dengan sepenuh hati tanpa memikirkan imbalannya dan selalu rindu bangun pagi untuk mengerjakan hal yang sama dengan lebih baik.” 

“Kalau Anda menemukan ini maka kerjakanlah sebagai profesi karena hasilnya akan jauh lebih maksimal dibandingkan sekedar kerja karena perlu gaji untuk hidup,” tambahnya.

Sebagai tambahan mengenai pemaknaan passion, Gilang Nur (Head of Department Kulturlokal.id) menyarankan untuk menonton film pendek Merangkul Jarak produksi KINOVIA yang berkolaborasi dengan CINE CRIB.

Potensi

Lantas, bagaimana dengan potensi? Potensi berbeda dari passion. Passion didapatkan dengan menggali dan mencoba sebanyak-banyaknya hingga merasa tepat, sedangkan potensi justru sudah ada dalam diri kita dari sananya.

“Dia [potensi -red] sesuatu yang tersimpan di dalam diri, tapi tidak akan menjadi apa-apa ketika tidak dieksekusi. Contoh, air yang berada di ketinggian tertentu memiliki energi potensial. Tapi dia baru memberi manfaat ketika dijatuhkan menjadi air terjun dan memutar turbin,” menurut Coach Alinne. 

Ia juga menambahkan, “Misalnya saja, orang keturunan Afrika itu memiliki potensi untuk menjadi atlet olahraga yang mengandalkan endurance karena tubuhnya secara genetik lebih kuat.” Potensi dianggap sebagai privilese dan dapat berbentuk fisik, mental, materi, dan lainnya. Kalau dilatih dan digunakan dengan benar, potensi dapat menghasilkan superior performance

Melengkapi pendapat Alinne, Mirza Pahlevi memberikan perspektif yang lain, yakni, “Potensi manusia itu sifatnya dinamis. Potensi ini dianggap sejalan dengan pendidikan, pengalaman, atau interaksi yang diterima dan baru bermanfaat setelah dieksekusi, potensi lulusan SMA akan berbeda dengan sarjana.”

Lantas, bagaimana cara untuk menemukan potensi dalam diri? Menurut salah satu artikel di dalam Harvard Business Review (HBR) yang ditulis oleh Kaplan, terdapat tiga cara:

  1. Mengidentifikasi impianmu
  2. Mengembangkan keterampilan untuk mencapainya
  3. Menunjukkan karakter serta kepemimpinan. 

Kemudian, kamu perlu memiliki keberanian untuk menilai kembali secara berkala, membuat penyesuaian, dan mengikuti haluan yang mencerminkan siapa kamu sebenarnya.

 

Referensi :

Cine Crib. (2020). Film pendek – merangkul jarak(2020) [YouTube Video]. In YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Ojieqds4Syo&t=243s

Kaplan, R. S. (2008, July 1). Reaching your potential. Harvard Business Review. https://hbr.org/2008/07/reaching-your-potential

O’keefe, P., Dweck, C., & Walton, G. (2018). Implicit theories of interest 1 running head: Implicit theories of interest implicit theories of interest: Finding your passion or developing it? . http://gregorywalton-stanford.weebly.com/uploads/4/9/4/4/49448111/okeefedweckwalton_2018.pdf

Redaksi Pemimpin.ID