Inspirasi4 Sikap Yang Harus Kamu Miliki Agar Tidak Digantikan Mesin

Dharmaji SuradikaNovember 28, 201948
https://pemimpin.id/wp-content/uploads/2019/11/man-using-a-computer-PB856DH-1-1280x895.jpg

Sejak manusia diciptakan di dunia ini, kemampuan bertahan hidup membuat mereka bisa bertahan sampai sekarang melewati risiko kepunahan. Manusia dengan kemampuannya untuk terus berinovasi mampu menciptakan teknologi-teknologi yang dapat membantu kehidupannya.

Pada zaman prasejarah, tantangan terbesar umat manusia adalah bagaimana kita dapat bertahan hidup melawan alam. Teknologi seperti Kapak Perimbas, Kapak Genggam dan sebagainya ditemukan sebagai bentuk adaptasi kita kepada alam. Teknologi tersebut penting pada masa itu karena dapat digunakan untuk berburu.

Pada zaman revolusi industri, mesin uap ditemukan untuk membantu manusia mempermudah hidupnya. Dengan adanya mesin uap, listrik dapat diciptakan. Mesin uap adalah teknologi yang menjadi simbol munculnya kehidupan modern. Manusia mampu bepergian lebih jauh dari sebelumnya dengan bantuan mobil dan pesawat. Yang sebelumnya wilayah kehidupan manusia hanya terbatas pada wilayah kecil, saat ini wilayah kehidupan manusia sudah mampu meliputi seluruh dunia.

Memasuki era industri 4.0, manusia sudah mampu menciptakan suatu sistem yang tidak hanya bisa mempermudah kehidupan mereka secara fisik, tetapi juga secara pikiran. Dengan Artificial Intelligent (AI), peralatan manusia tidak lagi menjadi piranti pasif yang menunggu manusia untuk menggunakannya. Sebaliknya, piranti ini sudah mampu berpikir, berkomunikasi, bahkan  belajar antara satu dengan lainnya. 

Dengan begitu, tantangan manusia zaman ini bukan lagi tentang bagaimana beradaptasi dengan lingkungan, tetapi bagaimana cara untuk tetap lebih unggul dari teknologi yang diciptakannya sendiri.

Manusia dituntut untuk bisa menjadi selalu lebih baik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, di dunia secanggih saat ini, growth mindset adalah kemampuan yang harus dimiliki manusia untuk tetap bertahan hidup.

Menurut Carol Dweck dalam Harvard Business Review, manusia yang memiliki growth mindset adalah mereka yang percaya bahwa talenta mereka dapat berkembang melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan masukan dari orang lain. Lawan dari growth mindset adalah fixed mindset. Sifat yang membuat manusia selalu merasa puas atas kemampuan yang dimilikinya.

Berbicara tentang growth mindset berarti berbicara tentang kemampuan manusia untuk mau terus belajar. Menurut Arie de Geus seorang pakar bisnis, kemampuan untuk belajar lebih cepat dari rivalmu mungkin menjadi satu-satunya daya saing yang berkelanjutan.

Sementara menurut Erika Andersen dalam Harvard Business Review, orang-orang yang terus ingin belajar adalah orang-orang yang selalu ingin menguasai kemampuan baru, mereka terus berpikir dan bertanya pertanyaan-pertanyaan yang bagus, mereka menerima kesalahan-kesalahan yang mereka buat sebagai proses mereka bergerak di kurva belajarnya.

Menurutnya, ada 4 sifat yang harus dimiliki agar bisa menjadi pembelajar yang baik, yaitu Aspirasi, self awareness (kesadaran diri), keingintahuan, dan vulnerability (kerentanan).

  • Aspirasi
    Sangat mudah untuk melihat seseorang memiliki aspirasi yang tinggi untuk belajar atau tidak: kamu ingin belajar hal baru atau tidak, kamu memiliki ambisi dan motivasi yang tinggi atau tidak. Tetapi, pembelajar yang baik, mereka mampu menumbuhkan level aspirasi dan itulah kuncinya. Orang-orang yang selalu menolak untuk belajar sangat sulit untuk sukses.

    Manusia memiliki kecenderungan menolak untuk berubah. Karena perubahan selalu diikuti dengan ketidaknyamanan dan ketidakamanan. Yang perlu dilakukan untuk mengatasinya adalah mengubah pola pikirnya. Kita harus berfokus kepada apa yang akan kita dapat dari ilmu baru ini daripada tantangan yang akan kita hadapi. 

  • Self Awareness (kesadaran diri)
    Mengerti tentang diri sendiri adalah sifat yang sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Oleh karena itu, dalam beberapa dekade terakhir, pemimpin selalu membutuhkan umpan balik dari anggota timnya. Namun jika berkaitan dengan belajar, terkadang banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya perlu banyak hal untuk dipelajari.

    Begitu banyak CEO dan pemimpin perusahaan yang sangat percaya diri mereka adalah pemimpin yang baik. Dia percaya dia mengerti tentang bisnis dan organisasinya dengan baik. Tetapi dia hanya mendengar orang-orang yang mempercayai idenya dan mengacuhkan pendapat orang-orang yang menantangnya sehingga anggota timnya merasa diikutsertakan dan akibatnya mereka tidak terinspirasi.

    Ketika pemimpin sadar bahwa dirinya masih banyak yang perlu dipelajari, dia menjadi sadar akan perlunya pengembangan diri dan lebih terbuka terhadap umpan balik. Dia sadar kalau pengetahuan dari dalam dirinya saja tidak cukup, tapi dia juga membutuhkan masukan dari orang lain.

 

  • Keingintahuan
  • Kita bisa belajar banyak dari anak kecil tentang keingintahuan. Mereka selalu ingin mencoba hal baru tanpa terlalu banyak berpikir tentang dampak dan akibatnya. Keingintahuanlah yang membuat kita selalu ingin mencoba sesuatu sampai kita dapat melakukannya atau memikirkan tentang sesuatu sampai kita mengerti.

    Mempertanyakan sesuatu hal adalah langkah awal dalam meningkatkan keingintahuan. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti Bagaimana, Mengapa, Bagaimana saya dapat melakukannya dengan cara yang berbeda dapat meningkatkan rasa keingintahuan.

    Langkah berikutnya setelah bertanya adalah mencari sumber bacaannya, mencari orang yang ahli dibidangnya, mencari guru atau mentor yang dapat mengajarkannya atau bergabung ke dalam grup manapun yang mudah untuk dilakukan.

 

  • Vulnerability (kerentanan)

    Ketika kita sudah menjadi ahli di bidang tertentu kita memiliki kecenderungan untuk tidak mau terlihat bodoh. Hal ini menghambat kita untuk mau belajar hal yang baru.

    Terlihat buruk, bertanya pertanyaan bodoh, dan merasa canggung karena ketidaktahuan kita memang terlihat menakutkan. Tetapi pembelajar yang baik bisa menerima kerentanannya sebagai proses dari pembelajaran. Mereka mengetahui akan adanya kesalahan yang akan terjadi dan mereka mampu belajar dari kesalahan itu.

  • Semua teknologi yang diciptakan manusia selalu memiliki dua sisi keuntungan dan tantangan. Dari revolusi industri pertama, ketika mesin uap diciptakan sampai sekarang industri 4.0 manusia selalu dibayangi tentang ketakutan bahwa teknologi akan mengambil alih pekerjaan dan kehidupan manusia. 

    Smiling man with phone in cafe

    Padahal faktanya, manusia selalu berhasil melewati itu dan lapangan pekerjaan yang dihasilkan selalu hadir lebih banyak daripada yang tergantikan.

    Lapangan pekerjaan itu tidak hilang, hanya berubah bentuknya yang menuntut manusia untuk bisa lebih cepat dalam beradaptasi, lebih kreatif dan mampu bertumbuh lebih cepat.

    Jika kita sebagai manusia memiliki kemampuan untuk bertumbuh secara cepat dan berkelanjutan, maka tidak akan ada mesin atau sistem yang mampu menggantikan kita.

    Dharmaji Suradika

    Pemimpin.id adalah sebuah Gerakan Pemberdayaan Kepemimpinan Indonesia melalui konten dan program kreatif.

    Deep Space | Jl. Melawai X No.9 Melawai, Kec. Kby. Baru, DKI Jakarta 12160

    info@pemimpin.id

    Pemimpin.ID 2019