Jurnal3 Rahasia Public Speaking yang Banyak Orang Tidak Tahu

Omar KahaJuly 13, 2020210

 

Sumber : Windows – unsplash.com

Apakah perlu kita memiliki kemampuan berbicara di depan umum sedangkan saat ini kita sudah saling terhubung dengan gawai masing-masing? Untuk menjawab ini, kita bisa mengamati dari dua sudut pandang, yaitu sudut pandang kekhawatiran dan sudut pandang kebutuhan.

Kekhawatiran timbul sebagai respon dari rasa tidak nyaman dan tidak aman. Kekhawatiran berlebih bisa berujung pada ketakutan, bahkan fobia. National Institute of Mental Health of America menyatakan bahwa 15 juta orang dewasa di Amerika mengalami social phobia yang salah satu bentuknya adalah ketakutan berbicara di hadapan orang lain.

Ada beberapa alasan mengapa seseorang memiliki ketakutan tersebut, di antaranya: lupa apa yang harus dikatakan, permasalahan teknis, pendengar tidak memperhatikan atau akan menertawakan, dan demam panggung.

Sudut pandang selanjutnya adalah kebutuhan. Era 4.0 atau yang dikenal sebagai era disruptif memberikan banyak peluang sekaligus tantangan baru. Ada empat kategori kemampuan yang perlu dimiliki oleh seseorang pada masa ini, yaitu: kemampuan mengolah data, kemampuan yang berhubungan dengan ICT (information and communications technology), kemampuan yang berhubungan dengan teknik, serta kemampuan personal.

Dari keempat kategori tersebut, kemampuan personal menjadi domain kemampuan yang memungkinkan untuk dikuasai oleh banyak orang. Di antara bagian dari kemampuan personal adalah keahlian dalam berkomunikasi. Komunikasi menjadi kunci bagi seseorang untuk mengutarakan maksud kepada orang lain. Malalui kemampuan ini, seseorang dapat menyampaikan ide atau gagasan dengan baik dan berterima. Tentunya, keahlian berkomunikasi ini diperlukan hampir di setiap bidang pekerjaan, bahkan sisi kehidupan.

Dua sudut pandang tersebut dapat dijadikan landasan mengapa kita perlu mengusahakan untuk memiliki keahlian atau skills berbicara di depan umum. Sudut pandang pertama kita gunakan untuk melawan ketakutan kita, sedangkan sudut pandang kedua dapat kita jadikan acuan bahwa saat ini kemampuan berkomunikasi menjadi perlu untuk dikuasai.

Tiga Rahasia dalam Public Speaking

Satu hal yang harus disepakati adalah ketika kita diberikan kemampuan untuk berbicara, artinya kita telah mempunyai satu modal dasar untuk menjadi seorang pembicara yang baik. Selanjutnya, tugas kita adalah mengoptimalkan modal dasar tersebut untuk menjadi seorang pembicara yang lebih baik. Terangkum 3 rahasia yang dapat diikuti untuk menjadi a better public speaker.

Pertama, selamatkan bagian opening (pembukaan) dan closing (penutup). Detik-detik pertama dalam berbicara dapat menentukan keberhasilan ataupun kegagalan detik-detik selanjutnya. Mengapa bisa terjadi? Bagian pembukaan dalam public speaking dapat dianalogikan seperti bagian depan sebuah rumah. Pembicara (speaker) mengajak pendengar untuk menuju bagian dalam rumah (bagian inti pembicaraan) melalui pintu gerbang, halaman, dan pintu masuk utama. Saat itu, pembicara sebenarnya sedang berusaha untuk membangun hubungan (rapport) dengan pendengar. Keberhasilan dalam membuat kesan pertama yang baik akan mempengaruhi kualitas hubungan antara pembicara dan pendengar selanjutnya. Dalam berkomunikasi, bagian penting yang perlu diperhatikan adalah terbangunnya kualitas hubungan yang baik antara penutur dan pendengar. Ini merupakan level yang lebih tinggi jika dibandingkan hanya berbasa-basi. Sementara itu, bagian penutup (closing) memegang peran penting dalam membenamkan kesan yang akan selalu diingat oleh pendengar. Seperti halnya analogi rumah, pembicara, sebagai tuan rumah, mengantarkan pendengar keluar dari bagian utama rumah yang tentunya akan melewati bagian-bagian yang sama ketika memasuki rumah. Penutup yang baik akan mampu mengikat memori para pendengar untuk lebih lama menyimpan dan mengingat poin-poin yang disampaikan.

Kedua, gunakan teknik storytelling. Teknik ini dianggap efektif dan banyak digunakan oleh para pembicara-pembiacara besar. Tujuan penting dari teknik ini adalah melibatkan emosi pendengar dalam memahami poin-poin yang disampaikan. Setidaknya ada tiga hal yang membuat pendengar tertarik untuk memperhatikan pembicara, yaitu: emotional (pembicara menyentuh hati pendengar), novel (pembicara menyampaikan suatu hal yang baru), dan memorable (pemicara meyajikan konten yang tidak mudah dilupakan). Pendengar akan mudah terbawa dalam materi yang disampaikan jika mereka dilibatkan baik dari segi pikiran dan perasaan. Selain itu, pendengar pun akan lebih mudah mengingat kembali poin-poin yang disampaikan melalui teknik bercerita ini karena pada hakikatnya cerita adalah data yang memiliki jiwa. Bagaimana membangun sebuah cerita? Cerita bisa digali dari pengalaman pribadi, orang lain, maupun jenama (brand) yang sukses.

Ketiga, perbaiki bahasa tubuh dan kualitas vokal. Seseorang yang berbicara di depan umum tidak hanya menyajikan suara yang dapat didengar, namun juga wujud fisik yang bisa dilihat. Apa yang memiliki porsi paling besar dalam public speaking? Kita bisa mengacu pada pola 50:40:10. 50% dari penilaian pendengar terhadap pembicara terletak pada non-verbal communication (komunikasi non-verbal) yang terdiri dari penampilan (appearance) dan bahasa tubuh (body language). 40% penilaian pendengar bertumpu pada nada suara (tone of voice), sedangkan 10% sisa penilaian berasal dari kata-kata (words). Bagi sebagian orang, pola ini terdengar aneh, namum pembicara-pembicara hebat telah berhasil membuktikannya. Mereka tidak hanya mengandalkan kata-kata untuk disampaikan, namun juga mencitrakan penampilan yang enak dilihat, bahasa tubuh yang representatif, serta intonasi atau nada suara yang mendukung. Fenomena yang kerap terjadi adalah pendengar lebih mudah mengingat seperti apa tampilan fisik pembicara dibandingkan kata-kata yang mereka dengarkan.

Mulai terapkan tiga cara tersebut dan bersiaplah dengan tantangan berbicara di depan siapapun!

Omar Kaha

Pemimpin.ID 2019 - 2020